Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Buku Kambing Hitam: Teori Rene Girard

gambar
Rp.100.000,- Rp.50.000,- Cuci Gudang
Judul: Kambing Hitam: Teori Rene Girard
Penulis: Sindhunata
Penerbit: Gramedia, 2007
Tebal: 435 halaman
Kondisi: Ori Bekas (Bagus)

Mengapa manusia melakukan kekerasan kepada sesamanya? Pertanyaan sederhana ini menyimpan keheranan—sebuah perasaan yang timbul saat orang menghadapi yang tidak lazim. Dapat dibayangkan apa yang terjadi di dalam sebuah masyarakat yang menganggap kekerasan sebagai sesuatu yang lazim. Tak ada keheranan yang muncul atasnya, akal pun tertidur, dan bersamaan dengan itu kekerasan tidak pernah dipersoalkan. Sebuah masyarakat yang tidak mempersoalkan kekerasan sudah pasti kehilangan keberadabannya.

Kita ingat kembali katalog kekerasan massa di negeri kita: kerusuhan Mei 1998 dengan target etnis Cina, perang saudara di Maluku antara orang Muslim dan Kristen, perselisihan etnis di Kalimantan antara Dayak dan Madura, pembunuhan dukundukun santet di Banyuwangi, tawuran antar pelajar, aksi premanisme, dan kini marak kekerasan yang dilakukan ormas.

Berbagai kekerasan itu gampang menular dan menjangkiti masyarakat karena memancing balas dendam. Satu orang terkena kekerasan, ia segera mencari sasaran lain untuk melampiaskan dendam akibat kekerasan yang dideritanya. Mereka yang sehari-hari kelihatan alim dan saleh tiba-tiba rela terbercik darah ketika disulut kekerasan. Demikianlah, dalam sekejap orang banyak bisa ketularan kekerasan, saling menyiksa dan membunuh, tanpa ada habisnya.

Berpijak dari tesis-tesis Rene Girard, pemikir kelahiran Prancis 1923, yang dibahas dalam buku terbaru Sindhunata ini, kekerasan meraja karena di tengah kehidupan masyarakat bertahta hasrat tiru-meniru (mimesis) pemicu kecemburuan dan perasaan iri. Dengan teliti, Sindhunata mengurai pemikiran Rene Girard yang mengelupasi kekerasan, mulai dari kulitnya yang terluar sampai pada biji misterinya yang terdalam. Girard seakan menyingkap misteri kekerasan yang selama ini tersembunyi.

Girard, sebagaimana ditunjukkan Sindhunata, mencoba menerapkan kebenaran-kebenaran tentang masyarakat yang diperolehnya dari sastra ke dalam penelitiannya di bidang antropologi, mitologi, dan ritual. Ia menunjukkan, kebenaran-kebenaran itu sungguh menjadi operasional dalam terjadinya agama dan pembentukan masyarakat. Di sinilah ia keluar dengan teori kambing hitamnya, dan menerangkan hubungan antara kekerasan dan agama. Ia tak habishabisnya ”menelanjangi” agama, sehingga ia bisa sampai pada kesimpulan mengejutkan: Violence is the heart of the sacred.

Kambing hitam, dalam perspektif Girard, pada awalnya berfungsi untuk menyalurkan dan mengosongkan kekerasan dalam masyarakat. Pengorbanan dijalankan supaya semua ekspresi kekerasan seperti persaingan, ketegangan, kedengkian, agresi, dan permusuhan dalam masyarakat menghilang dalam diri korban.

Namun, dalam perkembangannya kini mekanisme kambing hitam telah mengalami pembengkokan makna. Mekanisme kambing hitam justru menjadi semacam pelarian kontra-produktif karena gelagat buruknya selalu menyalahkan pihak lain. Jadi, dengan menjalankan ritus korban, orang-orang mengiyakan bahwa kambing hitam itu penyebab kekerasan. Itulah selimut kekerasan yang juga melingkupi kesucian agama (hlm. 173).

Bisa lihat dalam sejarah, misalnya, yang seolah menakdirkan minoritas etnis dan agama, di mana pun termasuk Indonesia, dengan stigma korban kambing hitam. Ambillah peristiwa yang telah lama berlalu: Tahun 1740, kurang lebih 100 ribu orang Cina dibantai Kompeni. Pada 13 Mei 1998, sehari setelah empat mahasiswa Trisakti tertembak mati, terjadilah penganiayaan, penjarahan, dan perkosaan terhadap warga etnis Cina di Jakarta dan Solo. Minoritas Madura korban pengejaran dan penganiayaan etnis Dayak di Kalimantan. Minoritas Muslim korban kekerasan di Maluku dan Poso. Minoritas Kristen merupakan korban bom dan pembakaran rumah ibadah di Jawa.

Berdasarkan peristiwa-peristiwa itulah, menurut Sindhunata dengan menyitir Rene Girard, bangsa Indonesia sungguh mimetik dan rivalis. Mereka selalu berseteru satu dengan yang lain. Wajah mimesis dan rivalisme itu semakin membenarkan pandangan Rene Girard bahwa tatanan masyarakat berasal dari kekerasan, dijamin kelangsungannya dengan kekerasan, dan dipertahankan lewat cara-cara kekerasan pula. Sedemikian rupa kekerasan itu mengawali, menyusup, dan mewarnai masyarakat maupun agama, sampai bisa dikesankan bahwa terjadinya masyarakat, bahkan agama, adalah karena kekerasan itu sendiri (hlm. 7).

Bahkan, di tengah krisis kekerasan dengan merebaknya aksi terorisme belakangan ini, agama tak berhasil meredamnya. Malah krisis tersebut justru dipulangkan kepada agama sebagai biang keladinya. Agama bukannya menjadi perekat, tapi pemecah yang membuat manusia terjerumus ke dalam rivalitas yang menuntunnya ke dalam krisis kekerasan.

Keteledoran agama dalam menjalankan fungsinya sebagai lembaga pengelola kekerasan membuat dunia terjerumus ke dalam krisis korbani. Krisis korbani terjadi bukan melulu akibat praktik korban dalam ritual keagamaan telah pudar, melainkan akibat tipisnya batas kekerasan yang suci dan kekerasan yang jahat. Kelengahan itu terbukti ketika terorisme menggunakan dalih kesucian untuk kejahatan.

Di sinilah titik relevansi pemikiran Rene Girard yang dikupas Sindhunata. Tesis Girard, bahwa ”akan datang saatnya, di mana agama tak lagi mampu meredam kekerasan”, kini seakan menjadi tesis profetis. Artinya, tesis itu benar-benar meramalkan kebenaran yang sekarang menjadi kenyataan. Tesis Girard tersebut tidak bermaksud membuka kedok kemunafikan agama, melainkan untuk menunjukkan betapa perlunya agama ”menyembunyikan” kekerasan, supaya ia bisa efektif kembali sebagai the economic violence (lembaga pengelola kekerasan).

Secara umum, dalam buku ini Sindhunata membagi teori Rene Girard menjadi tiga fase. Pertama, teori mimesis, yang terkait dengan penelitiannya atas karya sastra lima pengarang basar abad-18: Miguel de Cervantes, Gustave Flaubert, Stendhal, Marcel Proust, dan Fyodor Dostojevsky. Kedua, teori kambing hitam yang terkait dengan penelitiannya di bidang antropologi budaya, sejarah, dan agama arkais. Ketiga, interpretasi Girard terhadap kristianitas berdasarkan kedua teorinya di atas, lebih-lebih teori kambing hitam.

Menurut Sindhunata, dalam setiap karyanya, Girard selalu membaca situasi dari perspektif korban. Dalam arti ini, karyanya bukan melulu suatu telaah ilmiah, tapi juga suatu empati terhadap penderitaan dalam pelbagai situasi.

Membaca buku tebal yang diakhiri dengan refleksi Sindhunata sebagai Cina peranakan ini layaknya memandang ke dalam lensa yang sedang kita gunakan untuk meneropong lapis terdalam diri. Lalu, menembus kulit seraya memaksa kita mengaku bahwa kita merupakan satu roda gigi yang ikut bergerak, sekaligus memungkinkan sebuah mesin penghancur bekerja.

TASYRIQ HIFZHILLAH, Bergiat di Lembaga Studi Pembebasan (LSP), Yogyakarta.
Pesan Sekarang

Berlangganan via Email