Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jual Buku Kajian Kritis Das Kapital Karl Marx

Judul: Kajian Kritis Das Kapital Karl Marx
Penulis: Anthony Brewer
Penerbit: Teplok Press, 2000
Tebal: 332 halaman
Kondisi: Bekas (cukup)
Stok kosong


Karl Heinrich Marx (1818-1889) adalah sebuah fenomena. Sekurang-kurangnya dalam dua abad belakangan ini, ia tak ubahnya seorang "nabi". Di kutub yang satu, ia disanjung dan dipuja-puji. Tapi tak kurang pula dihujat dan dicaci-maki di kutub yang lain.

Marx "beredar" dalam ragam teori sosial, politik, ekonomi, budaya, dan filsafat. Ia pun "mercu suar" bagi kegiatan praksis sebagian komunitas. Ia ikut "membagi dunia" antara sosialisme dan kapitalisme, antara komunisme dan liberalisme. Menurut Franz Magnis-Suseno, dalam Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopia ke Perselisihan Revisionisme (1999), tanpa alam pikiran Marx, abad ke-20 akan berlangsung lain.

Hal ini yang membedakannya dengan Auguste Comte (1798-1857) dan Martin Heidegger (1889-1976). Mereka mengubah cara para filsuf berpikir, yang pada gilirannya berdampak pada cara pandang masyarakat. Sementara Marx mengubah cara manusia bertindak. Bukan sekadar upaya spekulatif bila hubungan antara Marx "muda" dan Marx "dewasa" masuk dalam agenda perbincangan kaum neo- Marxis sekitar 1960-an.

Secara kritis mereka mau menyoroti Marx, sebab dianggap terjadi satu peralihan gagasan, atau suatu renaisans pemikiran. Ada yang secara tegas membedakan alam pikiran Marx dalam tiga periode atau tiga tahap. Yaitu "filsafat" (German Philosophy), "sosialisme" (French Socialism), dan "ekonomi-politik" (British Political Economic). Akhirnya, pembedaan ditajamkan menjadi dua masa, yakni mewakili karya-karya awal dan karya-karya lanjut.

Marx muda disimak lewat Deutsche Ideologie dan The Paris Manuscripts, dan Marx dewasa lewat Manifess der Kommunistissche Partei dan Das Kapital (3 jilid). Tapi, benarkah ada "kelahiran kembali" pada alam pikiran Marx? Bagi Marx muda, perjuangan kelas adalah poros; sedangkan bagi Marx dewasa, perjuangan kelas justru struktur kelas, buruh, dan modal.

Marx, dalam The Paris Manuscripts, menunjukkan dirinya sebagai humanis yang hendak menggagas suatu cita-cita besar pada kemanusiaan. Ia mau memperlihatkan kepeduliannya terhadap alienasi manusia yang dibelenggu kekuasaan ekonomi dan etos kerja. Marx ingin membebaskan dan menempatkan eksistensi manusia yang kehilangan keutuhan jati dirinya sebagai makhluk alam dan sosial.

Sedangkan dalam Das Kapital, Marx -bersama karibnya, Friedrich Engels (1820-1895)- merumuskan dua model kelas yang kemudian menjadi konsep sentral. Sejarah bukan semata-mata perjuangan kelas, melainkan perjuangan antara dua kelas mendasar: kaum borjuis dan kaum proletar. Karangan Anthony Brewer ini, sebagaimana judulnya, ingin meninjau Marx melalui magnum opus-nya yang tersohor itu.

Tujuan Brewer, lewat buku berjudul asli A Guide to Marx's Capital (1984) ini, membikin Das Kapital gampang dicerna. Setidaknya, supaya bisa menuntun dan memberikan kemudahan dalam menyelidiki teks karya Marx tersebut. Brewer mengkaji jilid demi jilid, bagian demi bagian, bab demi bab, sembari mengomentari.

Tapi, jangan berharap banyak jika ingin mendalami bentang pemikiran Marx yang utuh. Pada karya Magnis-Suseno, alur argumentasi dan tahapan pemikiran Marx tampak diracik jelas dan jernih. Sementara di buku Brewer, kita kerap "kehilangan" makna tafsiran. Mungkin karena terjemahannya.

Ricardo I. Yatim
Alumnus Fakultas Filsafat, UGM

Berlangganan via Email