Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jual Buku Sosiologi Islam

Judul: Sosiologi Islam: Suatu Telaah Analitis Atas Tesa Sosiologi Weber
Penulis: Bryan S. Turner
Penerbit: Rajawali Pers, 1991
Tebal: 374 halaman
Kondisi: Bekas (cukup)
Terjual Jakarta Selatan


Pada dasarnya pandangan weber tentang islam memang mempunyai daya tarik tersendiri, tapi yang lebih mempesona adalah kenyataan bahwa pandangannya tersebut mempertaruhkan seluruh totalitas sosiologinya. Buku ini menganalisa kembali pandangan-pandangan weber yang utama tentang islam, seperti kerasulan Nabi Muhammad SAW, asal-usul Kharismatik islam, mistisisme dan auliya, hukum suci syariat dan sekularisasi dalam islam.

Weber telah menyimpulkan bahwa semangat kapitalisme (di eropa) menjelma karena adanya asketisisme yang lahir dari kandungan eklesiastik-calfinisme-agama Kristen protestan, jadi yang ingin di capai weber ialah sebuah pemuasan Tanya atau agaknya sebuah interaksionisme gampangan bahwa Kristen sebagai agama yang mendunia di barat telah mampu melahirkan kapitalisme. Sedangkan agama yang merupakan berakar juga dari cikal bakal yang sama yaitu ibrahimiah, yang menggelora di timursecara sepektakuler, mestinya juga bisa melahirkan kapitalisme untuk umatnya. Tapi apa yang di temui weber tidak ada kapitalisme di timur, tidak ada etika asketis di dalam islam.weber hanya menemui kenyataan bahwa dominasi patrimonialisme, misi agama awal yang sudah di penggal oleh segerombolan prajurit pemangku panji-panji islam, telah menggugurkan tumbuhnya kapitalisme dari kandungan islam atau membuat islam sekedar agama akomodatif.

Dogma “ kepercayaan agama” khususnya syariat islam merupakan kerangka yang “dingin” dan berpengaruh secara kausal di dalam mana kegiatan social berlangsung, namun kemudian weber memperlunak pernyataannya ini dengan menerangkan, bahwa dominasi patrimonial yang berbuat sekehendak hatinya dan yang tidak dapat di perkirakan dari semula mempunyai hasil memperkuat lingkungan ketaatan terhadap hokum. Walau weber selalu tergelincir ke dalam posisi kausalitas pluralis dan ketidakpastian kausal, namun wujud keseluruhan pengkajiannya adalah, bahwa masyarakat islam adalah sebuah masyarakat yang berciri dominasi patrimonial, yang menyebabkan hubungan-hubungan politik, ekonomi dan hokum menjadi tidak setabil dan kacau, tegasnya tidak rasional. Weber berkelanjutan mempertentangkan kondisi social feodalis eropa, yang menjamin hak milik, dengan kondisi feodalisme “prebendal” dan patrimonialisme dunia timur yang mengangkat cara-cara kesemena-menaan setinggi-tingginya.

Ada beberapa tugas utama yang haarus di emban weber dalam penelitian tentang islam ini. Ialah untuk menggariskan secara kasar apa yang di tulis weber sesungguhnya tentang islam, nabi muhammad dan kaum muslimin dan menghubungkan komentarnya yang belum selesai itu denga penelitian agama dengan bentuk tatanan-tatanan sosial yang lebih luas. Max weber di kenal karena penelitiannya tentang agama Kristen protestan dan timbulnya kapitalisme eropa, yang secara implisit dikelirukan orang sebagai analisa yang meng-calvinisme sebagai penyebab lahirnya kapitalisme. Dengan istilah yang lebih lunak, karya weber sering kali dianggap sebagai jawaban atas teori karl marx, atau setidak-tidaknya atas marxisme. Dalam buku ini lebih kurang kebalikan posisi yang dua itu, karena Bagi weber, sifat lembaga-lembaga politik muslim yang patrimorniallah yang menjadi penghalang tumbuhnya pra-kondisi kapitalis, yaitu hokum rasional, pasar buruh bebas, kota-kota yang otonom, dan satu kelas borjuis. Ketika weber menyebut islam sebagai agama- prajurit yang telah mengintrodusir suatu etika yang tidak selaras dengan “semangat kapitalisme”, pendapat ini tanpa ampun di sangkal oleh kenyataan-kenyataan faktual yang murni. Bagaimanapun juga, penggarisan kasar etika perajurit islam sebenarnya merupakan refleksi utama dari keresahan hatinya tentang sifat patrimornial islam zaman madia. Dalam membahas patrimonialisme timur entah sengaja weber telah menjiplak analisa masyarakat timur, yang pernah di garap marx dan engels; karena itu unsur kedua pengkajian ini adalah juga sebuah analisa hubungan antara marx dan weber dalam kerangka pemikiran marx: yaitu “Asiatic mode of production” (cara-cara produksi ala marx). Jadi pada dasarnya, betapapun marx menekankan pentingnya monopoli kekuasaan ekonomi dan weber menekankan pada monopoli kekuasaan politik, namun dalam garis besar, pemikiran dasar dan implikasi wawasan mereka tentang jurang perbedaan antara asia dan eropa adalah sama. kemudian pada bagian penutup buku ini,memusatkan hubungan antara islam, kolonialisme dan timbulnya masyarakat modern. Argumentasi pada bagian akhir akan berisi kesimpulan bahwa pandangan weber etika kapitalis dan sekulerisasi sangat cocok bagi situasi histori timur tengah, bukan karena adanya persamaan dasar antara masyarakat industri dan etika sekuler, tetapi karena pandangan- pandangan dunia seperti ini sudah di impor sendiri oleh kaum cerdik pandai muslim yang telah menerima lebih dulu penafsiran barat tentang sejarah.

Namun seiring itu, tanggung jawab rangkap islam sebagai agama batiniah yang personal dan sebagai agma solidaritas sosial, justru adalah masalah keagamaan pribadi di Negara non-islam. Golongan kemalis dengan reformasi-reformasinya, telah memperagakan bahwa orang dapat dengan cepat mengubah lembaga-lembaga yang di pandang di perintahkan oleh allah dan tidak dapat di ubah. Di bawah kondisi- kondisi yang baru, islam harus berlomba-lomba dan becampur dengan bermacam-macam perspektif ideologis, yang mengajukan berbagai tuntutan intelektual dan memerlukan berbagai ikatan. Sesudah kehilangan nilai-nilai monopoli umum, islam menjadi dasar kesalehan pribadi yang tak menentu. Dengan meniru sekularisasi barat, islam juga harus menghadapi paradoks “memilih untuk percaya”. Di dalam dunia pilihan pribadi yang tak menentu, di mana hanya terdapat beberapa tongkat pengukur moral.(“masalah moderenisasi” yang peling besar untuk islam bukan masalah dapat atau tidaknya ia membantu modernisasi politik, keluarga atau pribadi, namun apakah ia dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan ummat yang modern).