Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jual Buku Memorabilia

Judul: Memorabilia (kumpulan cerpen)
Penulis: Agus Noor
Penerbit: YUI, 1999
Tebal: 201 halaman
Kondisi: Stok lama (cukup)
Stok Kosong


Kumpulan cerpen Memorabilia karya Agus Noor, memuat 15 cerita. Cerpen “Dongeng buat Pussy (Atawa: Nightmare Blues)”, langsung menarik perhatian saya. Pada cerpen ini dikisahkan seorang Nenek diminta mendongeng kepada Pussy. Lalu, mendongenglah Nenek itu. Dalam dongengnya, Nenek menyebut ada seorang Putri yang memelihara kucing, yang namanya juga Pussy. Dongeng yang diminta Pussy berjudul Gracchus Sang Pemburu. Ternyata, dongeng ini adalah sebuah cerita pendek karangan Frans Kafka. Mengapa tidak dipilih dongeng lain, misalnya The Nightingale and The Rose karya Oscar Wilde yang lebih mirip cerita untuk anak-anak?

Barangkali, pilihan pada cerita pendek karangan Kafka itu bukanlah suatu kebetulan. Karena cerpen-cerpen dalam Memorabilia ini memang mirip dengan cerpen-cerpen Kafka, yakni tak hanya bergaya surealistik, tetapi yang lebih penting lagi: horrible, menakutkan. Oleh karena itu, untuk sementara saya melihat bahwa komentar tentang Kafka tampaknya bisa digunakan modelnya untuk mengomentari cerpen-cerpen dalam kumpulan ini.

Karena saya kurang terbiasa membaca cerpen-cerpen Kafka, kecuali untuk kepentingan penelitian lakon-lakon absurd, maka tatkala saya menikmati cerpen-cerpen dalam Memorabilia ini, saya merasakan mual. Akan tetapi timbul gagasan dalam benak saya: jangan-jangan, “mual” dan mau “muntah” yang saya rasakan itu adalah aspek pragmatikii cerpen-cerpen ini, yang (justru!) harus mendapat perhatian.

Jika dugaan itu benar, dapatlah dikatakan bahwa cerpen-cerpen Agus Noor ini ditulis dengan konvensi estetika yang merebak dalam banyak karya seni pada akhir-akhir ini, seperti: teater, seni rupa, fiksi, puisi, bahkan beberapa lirik dalam nyanyian. Pada pentas Teater Mandiri, orang menikmati teror mental melalui lakon-lakon Putu Wijaya. Lukisan Djoko Pekik, sketsa-sketsa Semsar Siahaan, patung-patung keramik Girindra (anjing kurus), juga merangsang kemualan. Begitu pula puisi-puisi sosial Rendra. Bahkan jauh sebelum konvensi “estetika mual” itu merebak di Indonesia, ada satu puisi Rendra, yang berjudul Nyanyian Angsa, yang ditulis di Amerika pada akhir 1960-an, sudah menunjukkan hal itu: bagaimana borok sipilis berada di kelek dan di kelangkangan, dan bagaimana pula nanahnya meleleh. Barang-barang yang menjijikkan seperti ini juga sudah disebut-sebut Chairil Anwar pada tahun 1940. Dengan kata lain, sesungguhnya hal-hal yang “memualkan” sesungguhnya punya sejarah yang cukup panjang dalam sastra Indonesia.

Akan tetapi, pada cerpen-cerpen Agus Noor ini, barang-barang yang menjijikkan itu didudukkan sebagai foreground, bahkan sebagai pusat perhatian! Yang lebih menarik, kumpulan cerpen ini diberi judul Memorabilia (sebuah istilah bahasa Inggris tingkat post-advanced), yang artinya hal-hal yang berharga untuk dikenang. Jika secara statistik lebih dari 95% cerpen dalam kumpulan ini “bermain-main” dengan hal-hal yang memualkan perut, tidakkah judul itu memberi sasmita, setidaknya kepada saya, bahwa hal-hal yang memualkan dan menjijikkan itulah yang sekarang ini pantas dikenang sebagai sesuatu yang berharga.

Memang, fiksi dengan sajian-sajian yang memualkan ini bukanlah yang pertama. Akan tetapi, eksplisitas penegasan bahwa yang menjijikkan itu sesuatu yang pantas dinikmati, mungkin baru Agus Noor yang melakukan. Oleh karena itu, jika cerpen dalam Memorabilia ini tidak bisa disebut sebagai pelopor dalam hal “estetika muntah-muntah”, maka sulit dielakkan untuk tidak menyebut bahwa cerpen-cerpen Agus Noor ini adalah perumus estetika gaya muntah-muntah itu.

Hampir semua cerpen dalam kumpulan ini menyentuh soal mayat, penggorokkan, pembunuhan, darah, dan sebangsa kekerasan. Bahkan, cerpen “Kupu-kupu di Bawah Sepatu” yang dimulai dengan cerita indah tentang orang yang menjilma kupu-kupu, akhirnya ketemu juga dengan bakar-bakaran. Cerpen “Keluarga Bahagia” berkisah tentang ‘kebahagiaan’ dengan ukuran yang sama sekali tidak biasa, ukuran kekerasan juga. Apalagi cerpen “Anak Ayah”, yang dengan sangat eksplisit mengisahkan seorang ayah yang mengidamkan anaknya menjadi…: bajingan. Tampaknya, hanya profesi itulah yang berharga untuk suatu zaman ketika harapan adalah sebuah dosa, seperti disebut dalam nyanyian, “to wait for love will be a sin”. Pada akhir cerpen “Anak Ayah”, bahkan dikisahkan si anak memenggal kepala bapaknya sebagai manifestasi kebesaran.

Bakdi Soemanto

Berlangganan via Email