Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jual Buku Kata-Kata (Jean-Paul Sartre)

Judul: Kata-Kata
Penulis: Jean-Paul Sartre
Penerbit: KPG, 2009
Tebal: 298 halaman
Kondisi: Stok lama (bagus)
Harga: Rp. 100.000 (blm ongkir)
Order: SMS/WA 085225918312


Buku ini merupakan autobiografi salah seorang filsuf dan penulis Perancis yang sangat terkenal, Jean-Paul Sartre. Sartre lahir di Paris, 21 Juni 1905 dari pasangan Jean-Baptiste -seorang perwira angkatan laut- dan Anne-Marie Schweitzer. Ibunda Sartre adalah putri seorang guru bahasa dan sastra Jerman di Alsace bernama Charles Schweitzer. Ketika Sartre berusia dua tahun ayahnya meninggal kemudian Anna-Marie bersama puteranya itu pindah ke rumah orang tuanya.

Sartre juga salah satu tokoh yang mengembangkan paham eksistensialisme. Pernyataanya yang sangat terkenal adalah: “L’existence précède l’essence (Eksistensi lebih dulu ada dibanding Esensi)”.

Ada banyak ajaran tentang eksistensialisme tapi secara garis besar dapat disimpulkan bahwa eksistensialisme adalah suatu paham yang memandang manusia sebagai suatu yang tinggi, dan keberadaannya itu selalu ditentukan oleh dirinya, karena hanya manusialah yang dapat bereksistensi, yang sadar akan dirinya dan tahu bagaimana cara menempatkan dirinya

Pemikiran pokok Sartre berkaitan erat dengan fenomenologi dalam arti ganda. Pertama, ia memahami metode fenomenologis sebagai metode yang menekankan fenomen atau tampaknya sesuatu. Kedua, ia beranggapan bahwa kesadaran bersifat internationa, terarah pada sesuatu di luar dirinya.

“… ciri-ciri paham eksistensialis adalah pendekatan pada keunikan setiap individu, eksistensi dipahami sebagai kebebasan dan penggunaan fenomologi sebagai metode.”

Buku ini menelusuri masa kanak-kanak Sartre dan bagaimana cara dia memaknai dirinya. Bagaimana dia memutuskan untuk menulis tentang kehidupan. Bagaimana dari sejak kecil dia sudah tenggelam dalam dunia buku-buku. Kepribadiannya yang sejak kecil sudah tertutup dan menarik dari pergaulan. Juga kondisi ekonomi keluarganya yang jauh dari keprihatinan.  Dalam hal ini kakeknyalah yang memegang peranan penting dalam perkembangan jiwa , kecerdasan serta bakatnya sebagai penulis dikemudian hari kelak.

Sartre mengatakan: “Aku memandang perpustakaan sebagai tempat ibadah”

Hidup Sartre dimulai dari ruang belajar kakeknya. Sartre sangat tertarik dengan tumpukan berbagai jenis buku di ruangan belajar kakeknya. Ia mengambilnya lalu belajar membaca, berusaha memahaminya, mengkhayalkan bahwa dirinya menjadi bagian dari isi buku itu dan pada akhirnya menuliskannya. Les Mots merupakan renungan panjang dari makna bathin Sartre yang diungkapkan ketika dia telah berusia sekitar 50 tahun. Ada beberapa fase yang telah dilewatinya hingga akhirnya dia menjadi seorang filsuf dan penulis. Pertama fase mengungkapkan tentang pilihan mendasar yang diambilnya ketika masih muda untuk hidup lebih dalam buku-buku dari pada dalam kenyataan. Sartre  datang dari golongan borjuis yang hampir tak pernah kekurangan baik secara materil maupun kasih sayang, tidak pernah merasakan keprihatinan hidup. Tetapi kelebihannya itu yang membuatnya merasa tidak eksis, tidak menjadi milik siapapun, tidak mempunyai hak untuk ber-ada, merasa tak ada. Sartre juga pribadi yang tertutup dia lebih senang bergelut dengan kerumitan buku-buku dan menghayal dari pada harus bergaul dengan anak-anak dilingkungannya. Fase kedua adalah ketika Sartre kemudian tersadar dan bangkit dari khayalannya dan mulai memaknai hidupnya dalam dunia nyata.

Sartre kecil tergolong sebagai anak imaginer yang dikuasai oleh berbagai bentuk khayalan. Dan untuk menyelamatkan dirinya dari dunia khayal ia  melakukan “tindakan penyelamatan” , yaitu “Menulis”. Dan ada aforisma bagus dari Sartre,

“Nulla dies sine linea, Tiada hari tanpa baris-baris tulisan”

“… Menulis adalah suatu kebiasaan juga pekerjaan untukku.”
“… yang penting: aku menulis, aku akan menulis buku-buku. Buku-buku harus tetap ada. Karena bagaimanapun juga ia punya faedah. Wawasan pengetahuan luas tidak menyelamatkan apa-apa dan siapa-siapa, tidak merupakan pembenaran. Tetapi dia adalah hasil usaha manusia: manusia membangun citra di sekitar itu dan mencerminkan diri di situ; manusia memberikan kepada manusia dan pantulan kritik. Gedung tua yang perawatannya mahal itu, yakni kebohonganku adalah bagian dari karakterku: kita bisa sembuh dari nevrosis tetapi kita tidak bisa sembuh dari diri sendiri.”

“Aku menyukai kegilaanku, dia telah melindungiku dari godaan kaum “elite”. Aku tidak pernah merasa puas memiliki “bakat”: yang kucari adalah penyelamatan melalui pekerjaan dan “iman”.”

“Seorang manusia seutuhnya yang terbuat dari manusia lainnya, yang sama nilainya. Seperti mereka semua yang tidak lebih bernilai dari pada masing-masing diantara mereka.”

Di tahun 1964 Jean-Paul Sartre terpilih menjadi pemenang hadiah Nobel bidang sastra, tetapi dia menolak untuk menerimanya. Baginya menerima hadiah itu berarti memasukkan dirinya dalam kalangan borjuis/ kapitalis dan akan membekukan inspirasi dan produktifitasnya sebagai penulis. Jean-Paul Sartre meninggal dalam usia 74 tahun, tepatnya 15 April 1980.

Berlangganan via Email