Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jual Buku Sejarah Kauman: Menguak Identitas Kampung Muhammadiyah

Judul: Sejarah Kauman: Menguak Identitas Kampung Muhammadiyah
Penulis: Ahmad Adaby Darban
Penerbit: Tarawang, 2000
Tebal: 190 halaman
Kondisi: Stok lama (cukup)
Terjual Jakarta


Jika ke Yogya, sempatkan bertandang ke Kampung Kotagede, Karangkajen, dan Kauman. Inilah basis awal gerakan organisasi Muhammadiyah. Ia juga menjadi langganan berbagai penelitian ilmiah dan survei. Kotagede, misalnya, pernah menjadi objek penelitian Nakamura Mitsuo, khususnya berkaitan dengan perkembangan Muhammadiyah.

Karangkajen terkenal sebagai basis pengusaha dan tempat dimakamkannya para Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, seperti KH Ahmad Dahlan, KH A.R. Fakhruddin, dan KH Ahmad Azhar Basyir, MA. Dan Kampung Kauman merupakan tempat berdirinya Muhammadiyah, pada 1912. Ciri khas Kauman tampak pada dinamika pergerakan dan perubahan masyarakatnya.

Buku ini merupakan satu-satunya hasil penelitian yang mampu merekonstruksi perubahan sosial itu, baik secara vertikal maupun horizontal, pada periode 1900-1950. Menurut Ahmad Adaby Darban, sebelum Muhammadiyah berdiri, masyarakat Kauman tertutup dan mengidap "penyakit" superioritas terhadap kampung-kampung di sekitarnya.

Sebabnya, mungkin, pengaruh kepemimpinan keagamaan dan status sosial mereka sebagai abdi dalem Keraton Yogya. Ternyata, pada awal abad ke-20, kejumudan itu ditembus oleh paham pembaruan Islam dari Timur Tengah, lewat organisasi Muhammadiyah, Ar-Rosyad, Jogjaning Olah Raga (JOR), dan Markas Ulama Asykar Perang Sabilillah.

Keberadaan organisasi-organisasi ini amat penting bagi perkembangan masyarakat Kauman. Buku ini lalu mengupas peran Muhammadiyah sebagai penggerak perubahan struktur sosial Kauman. Dalam Bab IV, misalnya, Adaby mencatat bahwa Muhammadiyah berhasil melakukan reformasi dan perubahan masyarakat Kauman dalam bidang keagamaan, pendidikan, ekonomi, kebudayaan, status wanita, dan kepemimpinan.

Pada mulanya, gerakan pembaruan itu ditempuh secara drastis dan radikal. Misalnya, mengubah saf Masjid Agung Kauman, dan arah Langgar Lor ke arah kiblat yang lebih tepat. Mereka juga mendirikan lembaga pendidikan, merombak struktur ekonomi, dan mengangkat status kaum wanita. Bahkan Muhammadiyah berupaya menghapus kesenian tradisional seperti shalawatan, samrohan, dan dziba'an.

Ada beberapa alasan. Pertama, munculnya pemujaan berlebihan terhadap Nabi Muhammad SAW. Kedua, pembacaan salawat secara berteriak-teriak dalam suatu lagu melanggar tuntunan Rasulullah. Dan ketiga, pembacaan barzanji dalam shalawatan barjanjen mengandung unsur kepercayaan bahwa roh Rasulullah datang dalam acara tersebut. Ini tentu bertentangan dengan ajaran Islam (halaman 92).

Gerakan ini mengejutkan masyarakat Kauman. Muncullah reaksi pro-kontra. Mereka yang bersikap positif bersedia berdebat untuk mencari kebenaran dengan titik pijak yang sama: Islam. Sedangkan yang bersikap negatif melakukan perlawanan. Bentrokan fisik antara penghulu kasultanan dan pemuda Muhammadiyah sering terjadi.

Muhammadiyah kemudian mengubah cara berdakwah. Mereka menempuh cara silaturahmi, mujadalah, dan memberi uswah hasanah dalam amalan sosial. Cara ini ternyata menarik simpati banyak ulama Kauman, termasuk penguasa tradisional. Merekalah faktor penting melicinkan perubahan masyarakat Kauman.

Sebagai dokumen sejarah, sekalipun terkesan kedaluwarsa -karena dilakukan pada 1950-an- hasil penelitian ini masih layak menjadi referensi atau bahan acuan. Itu sangat berguna untuk melacak perubahan sosial, khususnya di Kauman, yang terjadi pasca-1950-an. Paling tidak, ia bisa menjadi bahan perbandingan sejarah.

Idris Thaha