Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jual Buku Kopassus Untuk Indonesia

Judul: Kopassus Untuk Indonesia
Penulis: Iwan Santosa & Eristiani Asikin Natanegara
Penerbit: Red & White Pub., 2009
Tebal: 342 halaman (ada foto berwarna)
Kondisi: stok lama (bagus)
Terjual Purwokerto


Jikalau Dian Dipa Chandra yang akrab dipanggil Candil meneriakkan "rocker juga manusia, punya rasa punya hati", pesan itu pula salah satunya yang ingin disampaikan dalam buku "Kopassus Untuk Indonesia".

Buku yang dilengkapi dengan dokumentasi berwarna ini bercerita tentang siapa itu Kopassus. Refleksi sosok Kopassus itu diperoleh dari kisah dan pengalaman yang dituturkan langsung oleh para prajurit anggota Kopassus dari berbagai pangkat dan jabatan selama tugas pengabdian mereka kepada bangsa ini, baik di dalam maupun di luar negeri.

Bagaimana alasan unik seorang Serka Asmujiono yang memilih menjadi anggota Kopassus padahal sebelum masuk militer ia sudah hidup mapan dari hasil usaha berjualan buah-buahan di Surabaya.

Kita bisa mengenal sosok Kopassus yang ditempa untuk menjadi sosok prajurit yang bertempur tanpa rasa takut tetapi tidak nekad, merangkul namun waspada, mendamaikan kubu yang berseteru dengan menghargai perbedaan, seperti yang dialami oleh salah seorang anggota Sandi Yudha Kopassus berpangkat sersan yang harus bertaruh nyawa menyamar jadi tukang durian di sarang GAM sampai akhirnya mendapat kepercayaan dari para petinggi GAM. Atau bagaimana kisah Letkol I.G.P Danny Karya yang berhasil meredam konflik bekerja sama dengan para tokoh agama dan masyarakat, melalui pendirian stasiun Radio saat ditugaskan di Poso. Begitu pula dengan kisah Mayor Yudha Airlangga saat bertugas di Libanon bersama Kontingen Garuda XXIII-A menengahi konflik antara kubu Hizbullah dan Israel yang sama-sama keras dalam memegang prinsipnya.

Sebagai pasukan elit TNI-AD yang memiliki motto 'cepat, senyap dan mematikan', bukan berarti tidak ada ruang nurani dalam diri prajurit Kopassus. Itu pula yang pernah dialami oleh Mayor Djon Afriandi yang pernah ditugaskan di Aceh. Kompi yang dipimpinnya ditugaskan misi tempur untuk merebut senjata dan menekan gerakan separatis. Tugas dikatakan sukses jika bisa merebut banyak pucuk senjata. Dalam kontak tembak Kompi yang dipimpin Afriandi dengan pasukan GAM, sudah terbayang jelas di kepala mereka berapa pucuk senjata yang bisa direbut. Namun, ada peristiwa di luar dugaan yang harus mengedepankan nurani mereka untuk mengalahkan misi yang diemban, menyelamatkan seorang anak perempuan yang berusia 7 tahun di tengah-tengah kontak senjata. Salah seorang anak buahnya berhasil menyelamatkan anak tersebut, namun akibatnya misinya tidak membawa hasil dan mendapat teguran keras dari pimpinan.

Karena itu, ada pula Operasi Militer Selain Perang dalam bentuk operasi kemanusiaan penanggulangan bencana alam. Bencana alam tsunami Aceh, Pangandaran, gempa bumi Jogja, Bengkulu, Cianjur, banjir di DKI Jakarta hingga gempa bumi di Sumatera Barat menjadi kancah bakti bagi Prajurit Kopassus yang menggandeng seluruh elemen masyarakat Indonesia. Sebagaimana dialami oleh Letkol Fulad, Danyon 116 di Meulaboh yang baru 20 hari dilantik langsung disapu tsunami dan kehilangan 14 anggotanya. Letkol Fulad yang selamat dari sapuan tsunami, bersama anak buahnya langsung melakukan operasi kemanusiaan bagi para korban sehingga markasnya pun berubah fungsi menjadi lokasi pengungsian sekaligus Posko. Tiga tahun bertugas di Meulaboh, kemudian mendapat tawaran dari Wakasad untuk pindah dan penyegaran ditolaknya, karena ingin membangun kembali batalyon dan masyarakat sekitarnya.