Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jual Buku Kematian Sebuah Bangsa (Kahlil Gibran)

Judul: Kematian Sebuah Bangsa
Penulis: Kahlil Gibran
Penerbit: Bentang Budaya, 1998
Tebal: 188 halaman
Kondisi: Bekas (cukup)
Harga: Rp. 45.000 (blm ongkir)
Order: SMS 085225918312



Seorang arif pernah mengatakan, ''Kehidupan dan
kejayaan
sebuah bangsa terletak pada akhlak anak bangsa itu
sendiri. Jika hancur akhlak anak bangsa, maka
hancurlah
juga bangsa itu". Ungkapan itu sungguh tepat untuk
menengok kembali perjalanan sejarah bangsa kita
selama
ini. Para pemimpin bangsa kita di masa Orde Baru
terbukti tidak menempatkan akhlak pada tempat yang
selayaknya dalam proses pembangunan selama tiga
puluh
dua tahun lebih.

Kita pun akhirnya memahami bahwa krisis politik,
ekonomi
dan hukum yang melanda Indonesia adalah akibat dari
model serta proses pembangunan yang salah. Kini kita
menyaksikan hasil jerih payah Orde Baru selama lebih
dari tiga puluh dua tahun yang selalu
dibangga-banggakan
tiba-tiba dipertanyakan dan digugat kesahihannya.
Hampir
di seluruh lapisan masyarakat Indonesia muncul
demonstrasi dan mulai mengarah pada civil
disobedience
(pembangkangan rakyat) sebagai indikasi terjadinya
ketidakpercayaan rakyat terhadap pemerintah maupun
lembaga perwakilan rakyat.
Melihat bagaimana pemerintah dan para wakil rakyat
merespons aksi para demonstran dan para kritisi
menunjukkan betapa bangsa kita memang masih dalam
taraf
kanak-kanak dalam menyelenggarakan kehidupan
berbangsa
dan bernegara dalam konteks kehidupan modern.
Paradigma
pembangunan yang berorientasi pada kehidupan materi
semata akan mengukur kemajuan sebuah bangsa atau
rezim
dengan tolak ukur banyaknya gedung bertingkat,
banyaknya
jalan tol, gemerlapnya acara-acara kenegaraan yang
bersifat seremonial dan tingkat stabilitas keamanan.
Pendeknya, pembangunan akan dianggap berhasil kalau
aspek ekonomis- material meningkat, meskipun
dimensi
mentalitas dan kepribadian sebuah bangsa merosot,
ruh
budaya hilang, karena tidak menjadi perhatiannya.
Kita
bisa belajar banyak dari sejarah pasang-surut
bangsa-
bangsa, termasuk bangsa kita, bahwa kekuasaan
yangterlalu lama seringkali membuka peluang bagi
tumbuhnya nepotisme, yangpada urutannya melahirkan
derivasinya berupa korupsi, kolusi, represi dan
sejenisnya yang ujung- ujungnya adalah keambrukan
sebuah
bangsa.

Kehancuran sebuah bangsa akibat kezaliman dan
rusaknya
akhlak penguasa tergambar jelas dalam syair Kahlil
Gibran dalam buku ini, ... aku lapar dan hidup di
tengah bangsaku yang sangat lapar, tersiksa di
tengah
bangsaku yang tertindas, dibebani hari-hari hitam
yang
akan lebih bercahaya di atas mimpi-mimpiku yang
resah,
dan kegelapan malam yang akan berkurang gelapnya di
hadapan mataku yang kosong dan ratapanhatiku dan
jiwaku
yang luka. (hlm 103) Dalam buku ini, Gibran begitu
''jujur'' berbicara dalam bahasanya sendiri yang
kadang-kadang menyentuh hati, meluluhkan perasaan,
dan
kadang-kadang juga membakar emosi.
Karya-karya Gibran adalah gambaran sebuah pribadi
yang
penuh gelora cinta, keinginan untuk bebas dari
ketertindasan, dan pesan-pesan universal untuk
kehidupan, perdamaian, dan kemanusiaan. Dia begitu
menggelora manakala berbicara tentang cinta, begitu
kritis, pedas, dan dingin manakala mengungkapkan
kebobrokan penguasa; dia adalah pembawa pesan cinta
dan
kemanusiaan yang dituangkan dalam bahasa yang tidak
pernah membosankan.
Dalam Kematian Sebuah Bangsa ini pembaca akan
menemukan
pesan-pesan itu dalam bahasa sastra yang khas
Gibran.
Buku ini berasal dari dua buku Secrets of the Heart
dan
The Earth God yang kemudian disunting menjadi
sebuah
buku dengan alasan karena kedua buku itu memiliki
benang
merah yang sama, yaitu pesan-pesan kemanusiaan yang
begitu kental berupa antipenindasan,
antidiskriminasi,
gugatan terhadap kezaliman para penguasa yang
mengeksploitasi rakyatnya demi kesenangan pribadi
dan
kelompoknya. Seluruhnya diungkapkan dalam bentuk
cerita
pendek.

Membaca buku ini kita akan menemukan betapa karya
sastra
mampu menghadirkan sebuah realitas dengan begitu
jelas.
Dalam karya Gibran ini dapat ditemukan karakter-
karakter kehidupan manusia pada masa lampau, masa
kini,
dan masa yang akan datang: bahkan kehidupan yang
sama
sekali asing. Karena ternyata karya sastra tidak
hanya
menggambarkan kelemahan, ketakutan, keterasingan,
ataupun segala macam keindahan dan kebaikan, tetapi
juga
bisa mendramatisasi kehidupan manusia. Artinya,
karya
sastra mampu menyuguhkan perubahan prinsip yang
dipikirkan pengarangnya menjadi suatu kehidupan atau
tindakan.
Pada sisi inilah sastra dan realitas sosial budaya
bertemu untuk saling memberi pengaruh, saling
membutuhkan, dan saling menentukan pertumbuhan dan
perkembangan nilai-nilai dasar kemanusiaan. Karya
sastra, sebagai refleksi seorang sastrawan atas
realitas
kehidupan manusia, dapat mewakili persoalan
kehidupan
manusia, dapat mewakili persoalan dan motif-motif
pribadi pengarangnya, keadaan umum masyarakat, dan
keanehan atau keasingan yang membungkus realitas
ucapan
dan tindakan manusia. Tentu saja karya sastra juga
dapat
menyampaikan ''penyakit'' masyarakat tanpa pretensi
mau
menjadi ''dokter'' yang memberikan diagnosis pasti,
karena sastra hanya memiliki usulan-usulan tentatif.
Kita pun akhirnya bisa merenungkan kehidupan bangsa
kita
ini dengan membaca ungkapan Kahlil Gibran yang penuh
sindiran yang bersifat menggugat dalam buku ini.
Kemewahan para penguasa yang hidup dengan aman di
antara
kesengsaraan dan penderitaan rakyatnya juga
digambarkandengan bahasa indah Gibran, Kemewahan
orang-orang yang berkedudukantinggi dan para
pemimpin
bagai dedaunan yang senantiasa hijau dari pepohonan
populir, dan kehidupan orang-orang miskin itu bagai
sebuah kapal dengan nahkodanya yang telah kehilangan
kemudi, memiliki layar yang sobek oleh angin keras
dan
ditinggalkannya dalam keadaan menyedihkan karena
kedalaman laut yang marah dan prahara yang
mengamuk.