Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jual Buku Kappa Ryunosuke Akutagawa

Judul: Kappa (novel)
Penulis: Ryunosuke Akutagawa
Penerbit: Interprebook, 2009
Tebal: 105 halaman
Kondisi: Stok lama (bagus)
Stok Kosong

Kappa sebuah karya memukau hasil pikiran yang kacau dan jenius dari seorang intelektual paling terkemuka Jepang dalam era Meiji. Novel satire dan sebuah analisis sosial tentang kehidupan masyarakat dan budaya Jepang. Kappa terjadi di suatu tempat di antara mimpi dan kenyataan. Novel ini diceritakan dari sudut pandang orang gila di rumah sakit jiwa. Ditulis secara singkat sebelum Ryunosuke Akutagawa bunuh diri, terutama saat halusinasi dan khayalan menyerangnya.

Novel ini hanya tipis saja, 105 halaman, dan menyisakan beberapa halaman sebagai memoar untuk Ryunosuke. Ryunosuke membebaskan dirinya dari manusia, masuk kedunia lain, Kappa. Novel ini tidak obral deskripsi. Kita diajak langsung masuk tenggelam di alam Kappa, tanpa terlalu banyak dibimbing dengan deskripsi, dan itu berhasil. Mungkin itu bedanya ya antara pengarang novel biasa dengan seorang begawan, seaneh, seliar dan segila apapun karyanya.

Kappa digambarkan sebagai makhluk kerdil, dengan intelijensia tidak kalah dari manusia, namun dengan fisik yang sangat buruk dan moral yang jauh lebih rendah dari manusia, bahkan tidak senonoh (tentu saja bukan dalam penggambaran vulgar). Kappa menganggap semua berlawanan dengan manusia, misalnya yang serius dianggap lucu dan sebaliknya. Bahkan gagasan Kappa tentang seni digambarkan melebihi keberanian manusia. Bahwa seni hanyalah untuk seni, karena itu perhatian utama dari seniman haruslah membuat dirinya sebagai super-kappa melebihi semua gagasan tentang baik dan buruk (hal 37). Oh ya, karena digambarkan memiliki inteligensia tak kalah dari manusia, Kappa memiliki kelompok-kelompok penyair., novelis, kritikus, pencipta lagu dan seniman-seniman amatir lainnya.

Dalam dunia Kappa, selain seniman, juga banyak profesi lain seperti dokter, hakim bahkan kapitalis yang digambarkan dengan sangat buruk berikut ciri-ciri fisik dan perilaku menjijikkannya. Dan sebagaimana seorang kapitalis, kapitalis Kappa juga digambarkan mudah bergaul, serta pemerhati politik dan militer (tentu saja untuk kepentingan bisnisnya).

Ryunosuke juga menyertakan filosofinya yang disebutnya sebagai “Kata-kata Si Tolol” (jangan lupa didunia Kappa semua serba terbalik atau berlawanan). Misalnya “Orang tolol selalu menganggap bahwa setiap orang selain dirinya adalah orang tolol”. “Jika kita harus bertindak betul sesuai dengan akal, maka kita akan mengingkari eksistensi kita sendiri. Kenyataan dimana Voltaire mendewakan akal telah menikmati hidupnya yang panjang dan bahagia menunjukkan bahwa manusia tidaklah berkembang sepesat Kappa.” (hal 77).

Kappa juga memiliki Undang-undang Pidana berikut pasal-pasalnya, namun jarang menjatuhkan hukuman pada para penjahat. Kappa digambarkan memiliki perasaan yang jauh lebih halus dari manusia. Tuduhan bisa membuat Kappa sakit karena tidak kuat menahan rasa sedih. Tuntutan bisa membuat  Kappa mati. Jadi tidak perlu sampai vonis bukan?

Disepertiga bagian akhir, Ryunosuke menceritakan ketragisan akhir hidup Tok, seorang penyair jenius karena puitisnya sudah lelah. Disinilah tampak pandangan religius Ryunosuke. Kappa memiliki bermacam-macam agama seperti agama manusia, namun secara umum menyebut diri menjalankan Viverisme (Pemujaan Hidup), dengan tuhan “Pohon Kehidupan” yang memerintahkan untuk hidup penuh semangat. Nasib mereka ditentukan oleh keyakinan, lingkungan dan kesempatan. Sedangkan pada manusia ditambah dengan keturunan. Tok digambarkan iri pada manusia pendatang, dan memilih bunuh diri.

Hampir di akhir novel, Ryunosuke menggambarkan kehidupan setelah mati melalui Tok. Betapa enaknya kehidupan arwah. Jika lelah dengan kehidupan arwah, Tok akan menembak diri lagi, dan hidup lagi dengan arwah baru. Tok juga bercerita telah berkawan dengan berbagai pemikir jenius dunia dan bagaimana Tok menikmati gosip seputar dirinya setelah mati.

Diakhir cerita, simanusia pengembara harus kembali ke dunia manusia, meninggalkan dunia Kappa. Simanusia pengembara tersiksa. Meskipun Kappa berfisik buruk, serta menjalani hubungan perempuan dan laki-laki yang menjijikkan, semua itu tertutup oleh pandangan jernih dan kehalusan perasaan Kappa. Manusia meskipun menganggap dirinya makhluk paling sempurna, namun banyak melakukan kemunafikan dan tipu muslihat, sehingga sipengembara tidak tahan berdekatan dengan manusia, bahkan sekedar baunya. Hal itu menimbulkan kegilaan luar biasa, tidak bisa membedakan dunia Kappa, dunia manusia dan dunia khayal.

Itukah gambaran perasaan Ryunosuke sebelum bunuh diri? Ryunosuke seperti mengungkapkan kelelahannya pada kehidupan yang munafik dan berharap menjadi Tok yang abadi. Meski bahasanya sangat sulit dimengerti lantaran kita harus benar-benar ikut menenggelamkan diri menjadi seorang Kappa ketika membacanya, namun secara sepintas bagi pembaca awam yang sulit untuk mengerti, tetap bisa merasakan satir yang sangat dalam.