Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Buku Memutus Mata Rantai Kematian di Tanah Papua

Judul: Memutus Mata Rantai Kematian di Tanah Papua: Bercermin pada RSUD Abepura
Penulis: drg. Aloysius Giyai, M. Kes
Penerbit: Papua Pustaka Raya, 2013
Tebal: 494 halaman


Tanah Papua kaya raya dan alamnya indah memesona. Ironisnya, berita menyedihkan masih selalu datang dari sana. Busung lapar dan wabah penyakit berkali-kali menumbangkan puluhan anggota masyarakat Papua. Di Yahukimo saja, selama Januari-Maret 2013, sebanyak 62 orang meninggal karena sakit. Dari jumlah itu, 25 di antaranya adalah anak berumur lebih dari satu tahun.

Tentu ada masalah besar dalam pembangunan kesehatan di Papua. Nah, Aloysius Giyai, Direktur RSUD Abepura, mencoba menjawabnya lewat autobiografi ini. Tampaknya, Papua terlampau dikungkung oleh masalah politik, sehingga pembangunan untuk peningkatan hak dasar rakyat, seperti ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur, terabaikan.

Melihat hal itu, Alo, begitu ia biasa disapa, bertekad menjadi dokter. Keluarganya adalah korban kegagalan pembangunan kesehatan di wilayah Deiyai. Dari tujuh saudaranya, lima di antaranya meninggal akibat malaria dan kolera. "Hanya satu keinginanku, yaitu agar anak-anak Papua pada masa mendatang tidak mengalami sakit sepertiku, apalagi meninggal seperti saudara-saudariku. Mereka bisa tumbuh menjadi generasi yang sehat dan cerdas." Sebagai manusia koteka di Pegunungan Tengah Papua, keluarga Alo tertinggal dalam segala hal. Kehidupan mereka tak tersentuh pendidikan, layanan kesehatan, dan lain-lain.

Pada 25 Desember 1961, keluarga Giyaibo Raymondus Giyai (ayah Alo) tidak bisa mengikuti pesta Natal bersama, karena tidak membawa ikan sarden dan mi yang diwajibkan oleh para tetua adat. Dari peristiwa itu Giyaibo "bersumpah" untuk menyekolahkan semua anaknya, agar kelak bisa melihat langsung pembuatan sarden dan mi.

Sumpah itu terus membakar semangat Alo untuk berjuang keras. Saat duduk di bangku SMAN 1 Abepura, untuk biaya hidup, ia bekerja sebagai penyedot WC dan pemotong rumput. Hampir semua WC di kompleks perumahan Universitas Cenderawasih pernah ia bersihkan. Ketika kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga, Surabaya, untuk menutup biaya hidup dan kuliah, ia berdagang peralatan praktikum mahasiswa kedokteran, seperti pinset, gips, sendok cetak, pisau bedah, sarung tangan, dan masker. Alo lumayan cerdas. Untuk mata kuliah anatomi yang terbilang sulit, sehingga banyak mahasiswa mengulang sampai lima kali, Alo malah mendapat nilai 98.

Setelah menjadi dokter dan bertugas di RSUD Abepura, Alo mewujudkan impiannya, memulai dari hal-hal yang kecil namun penting. Ia mengubah wajah rumah sakit yang semula kumuh menjadi bersih, rapih, dan melengkapinya dengan fasilitas yang lebih memadai. Dia mendidik, melatih, dan menempatkan orang-orang yang tepat pada bidangnya. Dia juga membangkitkan semangat untuk memberikan pelayanan yang baik.

Selanjutnya, Alo mengefektifkan penggunaan dana jaringan pengaman sosial bidang kesehatan (JPS-BK). Bahkan, dalam situasi tertentu, Alo nekat memberikan pelayanan kepada keluarga miskin tanpa kartu JPS-BK. "Nurani saya terketuk. Saya tidak mungkin membiarkan mereka menderita, apalagi sampai meninggal. Mereka cukup menunjukkan surat keterangan dari pastor, pendeta atau tetua adat," katanya.

Dengan peningkatan mutu pelayanan dan didukung JPS-BK, jumlah pasien RSUD Abepura meningkat tajam. Jumlah pasien meningkat hingga 300%, sehingga rumah sakit kewalahan. Sebelumnya, karena keterbatasan pengetahuan atas kesehatan dan ketiadaan dana, banyak warga yang enggan berobat. Kematian pun tak terhindarkan.

Begitu kualitas kesehatan dan kesadaran masyarakat tentang kesehatan meningkat, lorong kecil untuk mencapai generasi berkualitas terbuka. Tentu saja, untuk tujuan itu, Alo tidak bisa bekerja sendiri. Dengan kapasitas masing-masing, setiap pemimpin di Papua harus mampu menjadi agen pemutus rantai kematian.

Menurut Alo, jika para pemimpin Papua ingin membangun masyarakat yang sehat jasmani dan rohani, hal pertama yang harus dilakukan adalah menyembuhkan hati mereka yang masih "sakit". Caranya? Dengan mengenang dan merenungkan pengalaman rasa sakit dan betapa sulitnya hidup pada masa lampau.

Dari atas kursi empuk kekuasaan yang menawarkan berbagai gaya hidup elite, para pemimpin mestinya rendah hati dan menjadi pelayan yang setia, agar anak-anak Papua tidak mengalami penderitaan yang mereka (pemimpin) pernah alami. Buku ini patut mendapat apresiasi. Dan semoga banyak pemimpin, baik di Jakarta maupun di Papua, yang membacanya.

Emanuel Dapa Loka
Penulis buku dan kontributor The Jakarta Post