Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jual Buku Komunikasi dalam Kinerja Intelijen Negara

Judul: Komunikasi dalam Kinerja Intelijen Negara
Penulis: Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati
Penerbit: Gramedia, 2013
Tebal: 220 halaman
Kondisi: Bagus (stok lama) 
Harga: Rp. 60.000 (blm ongkir)
Order: SMS/WA 085225918312


Keberadaan teroris terendus, aktivitas teroris terdeteksi, ancaman teroris digagalkan. Namun konflik sosial kerap terjadi. Ada apa dengan Intelijen Keamanan (Intelkam) Kepolisian RI? Pertanyaan itu mendapatkan jawabannya dalam buku ini. Semula merupakan disertasi untuk meraih gelar doktor ilmu komunikasi di Universitas Padjadjaran, Bandung, Nuning --sapaan akrab penulis-- kemudian menerbitkannya menjadi buku penguak tabir Intelkam.

Sebagai kajian akademis, buku mengenai lembaga telik sandi di Indonesia bukanlah yang pertama. Aa Kustia Sukarnaprawira pernah menulis buku berjudul Intelijen: Dilema & Tantangan. Bahkan PACIVIS menerbitkan banyak kajian intelijen, seperti Menguak Tabir Intelijen ''Hitam'' Indonesia, Negara, Intel, dan Ketakutan, dan Hubungan Intelijen-Negara 1945-2004.

Demikian pula kajian akademis yang membahas Intelkam secara khusus. Meskipun hanya sebatas skripsi yang tidak diterbitkan, banyak perwira polisi yang menulis tugas akhirnya seputar upaya peningkatan kinerja anggota Intelkam dengan studi kasus Intelkam di tingkat Polda dan Polres.

Hanya saja, Nuning mampu memotret unjuk kerja intelijen kepolisian secara global, dengan memfokuskan studinya pada konstruksi komunikasi organisasi pada Badan Intelijen Keamanan (Baintelkam) Mabes Polri tahun 2008.

Komunikasi dalam organisasi intelijen sangat kompleks. Ia terjadi berdasarkan logika komunikasi intelijen, yang secara umum terdiri dari beberapa bentuk berdasarkan dasar sasarannya. Komunikasi internal berlangsung antar-struktur dalam organisasi, sedangkan komunikasi eksternal ditujukan kepada lawan dan bersifat rekayasa. Adapun komunikasi publik ditujukan untuk menggalang dukungan masyarakat. Sebagai organisasi, komunikasi intelijen juga memiliki pola vertikal dan horizontal.

Sayangnya, Intelkam punya celah kelemahan sejak pembentukan jaringan intelijen. Pembentukan jaringan hanya dilakukan secara perorangan dengan teknik pembinaan yang bersifat tradisional dan konvensional serta fluktuatif, sesuai dengan kebutuhan yang sifatnya sementara. Sehingga seringkali hasilnya bersifat untung-untungan dan tidak sesuai dengan kebutuhan.

Pengawasan dan pengendalian terhadap jaringan berada pada anggota itu sendiri, sehingga sulit untuk mengevaluasi bobot jaringan dan informasinya. Hal lainnya, laporan yang dibuat jaringan bersifat lisan dan terkadang sulit diuji kebenarannya. Akibatnya, informasi yang diterima pimpinan sering keliru sehingga menimbulkan pengambilan keputusan yang juga keliru dan tidak akurat.

Dalam pelaksanaan tugas, terjadi distorsi dan hilangnya komunikasi. Yang biasa terjadi adalah pesan awal berubah, informasi hilang, dan pesan terdistorsi. Meskipun penyaringan informasi sering dibutuhkan dan diterjemahkan ke dalam bahasa yang relevan dengan tugas agen intelijen, narasumber penelitian menuturkan bahwa 80% informasi hilang pada pesan yang turun dari atas ke bawah. Parahnya lagi, yang menghambat terjadinya pertukaran data dan informasi antar-fungsi adalah sifat egosektoral. Hal inilah yang mengurangi kualitas pengambilan keputusan yang berbasis pertimbangan menyeluruh.

Kelemahan perwira intel Polri adalah memberikan laporan mengenai peristiwa yang sudah terjadi, bukan laporan yang lebih dini agar dapat diantisipasi. Hal ini terjadi karena masih timbul persepsi bahwa Intelkam, yang berada dalam institusi penegakan hukum, berfungsi sebagai penegak hukum. Ini pandangan yang keliru. Peran utama intelijen tetaplah deteksi dini setiap peristiwa sebagai masukan informasi dan analisis bagi para pengambil kebijakan.

Wajar saja jika Imparsial mencatat, selama tahun 2008, rentang waktu kinerja penelitian Nuning, terjadi 1.136 insiden kekerasan di Indonesia, dengan rata-rata tiga insiden per hari, mengakibatkan 112 orang tewas dan 1.736 orang luka-luka. Tiga besar insiden kekerasan itu adalah penghakiman massa (30%), tawuran (21%), dan konflik politik (16%).