Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jual Buku Kontribusi Islam Atas Dunia Intelektual Barat

Judul: Kontribusi Islam Atas Dunia Intelektual Barat (Diskriminasi Analisis Abad Keemasan Islam)
Penulis: Mehdi Nakosteen
Penerbit: Risalah Gusti, 2003
Tebal: 546 halaman
Kondisi: Stok lama (bagus)
Stok Kosong


Buku ini memuat berbagai kemajuan sains dan teknologi Islam masa lalu yang menjadi akar kemajuan Barat.

KEMAJUAN Barat dulu sering diklaim para orientalis bersumber dari tradisi Yahudi-Kristen (Judeo-Chirstian). Tapi anggapan itu makin berubah. Paling akhir itu dikemukakan Ibrahim Abu Rabi', guru besar Hartford Seminary, Connecticutt, Amerika Serikat, dalam ceramahnya bertajuk Wacana Baru Kajian Islam di Barat pada Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) IAIN Jakarta, akhir bulan silam. "Sekarang kian banyak orientalis yang mengakui utang intelektual Barat kepada Islam. Sehingga kemajuan peradaban Barat sesungguhnya berakar pada tradisi Yahudi-Kristen-Islam," ujarnya.

Wacana baru faktor Islam dalam kemajuan peradaban Barat memang tengah berkembang. Selain pengakuan dalam intelektualisme, sains, dan teknologi, di kalangan ahli perbandingan agama Barat, Islam kini diakui sebagai Western religion, di samping Yahudi dan Kristen. Alasannya, ketiga "agama Barat" ini mempunyai satu sumber: tradisi Ibrahim (Abraham traditions). Padahal, sebelumnya, Islam dimasukkan banyak orientalis ke dalam oriental religion (agama-agama Timur), semacam Hindu, Budha, atau Shinto.

Bagaimana persisnya kontribusi Islam kepada kemajuan intelektual, sains, dan teknologi Barat, diungkapkan dalam buku monumental yang diterbitkan UNESCO pada 1969, berjudul The Foundation of the Modern World. Dalam buku yang disunting Louis Gottschalk, filsuf sejarah terkenal, disimpulkan bahwa sebelum abad ke-13 prestasi ilmiah dan teknologi Barat (Eropa) jauh di bawah tingkat peradaban Islam. Bahkan masa ini disebut "masa gelap" Barat.

Berkas cahaya peradaban Eropa mulai muncul setelah terjadinya kontak Eropa dengan kaum muslim, baik di Barat (Andalusia) dan di Timur (Baghdad). Ketika berbagai syarah (komentar) para ilmuwan dan pemikir muslim, seperti Ibn Rusyd, mulai tersedia di Eropa pada abad ke-12 dan 13, pembebasan intelektualisme Eropa dari "pasungan" mendapatkan momentum yang tak bisa dimundurkan lagi. Bahkan tokoh-tokoh terkemuka Gereja, seperti Albertus Magnus dan muridnya, Thomas Aquinas, segera menerima subjek dan metode ilmiah yang dikembangkan ilmuwan dan pemikir muslim. Magnus dan Aquinas dengan cerdas merasionalisasikan temuan mereka dalam tradisi keilmuan dan intelektual Islam ke dalam kerangka teologi skolastik orthodoks Kristianitas.

Buku Nakosteen ini dapat dikatakan karya "klasik" yang mengungkapkan cukup rinci tentang kontribusi Islam kepada intelektualisme, sains, dan teknologi Barat. Buku aslinya dalam bahasa Inggris yang partama kali diterbitkan pada 1964 dalam segi-segi tertentu telah ketinggalan dibandingkan dengan karya lebih kontemporer, yang dihasilkan ilmuwan seperti Seyyed Hossein Nasr, Bernard Lewis, Richard Bulliet, Donald Hill, dan tentu buku UNESCO tadi. Karena itu, pembacaan yang lebih komprehensif atas buku Nakosteen memerlukan tambahan karya yang lebih terkini.

Tapi argumen pokok Nakosteen tetap relevan sampai saat ini. Bahwa ketika para penguasa Eropa baru sampai pada tahap menyewa guru untuk mengajarkan menulis dan membubuhkan tanda tangan, berbagai institusi keilmuan Islam justru tengah mengembangkan dan menyempurnakan tradisi sains dan teknologi. Kemudian hasil usaha kreatif dan jenius para ilmuwan muslim tersebut menjangkau Eropa melalui penerjemahan karya mereka tentang filsafat, sejarah, pedagogi, kedokteran, geografi, matematika, dan berbagai ilmu lain. Dari sinilah sains dan teknologi selanjutnya berkembang di Barat sehingga menjadi warisan dunia modern.

Selain itu, karya Nakosteen ini mempunyai keunggulan lain. Berbeda dengan karya Nasr, Lewis, Bulleit, Hill, yang terutama memusatkan kajian pada kemajuan sains dan teknologi Islam per se, Nakosteen lebih jauh melacak akar kemajuan tersebut. Dia mengungkapkan perkembangan institusi keilmuan dan pendidikan muslim yang menghasilkan produk ilmiah sangat luas, bahkan memberikan kontribusi penting dalam pembentukan lembaga keilmuan dan pendidikan Barat modern. Di sini menarik diikuti deskripsi dan analisis Nakosteen tentang, misalnya, kontribusi Akademi Jundi-Shapur di Persia Tenggara terhadap pendidikan Barat. Padahal, selama ini kalau berbicara tentang institusi keilmuan Islam, orang paling banter berhenti pada Bayt al- Hikmah di Baghdad atau Dar al-Ilm di Kairo.

Kontribusi lembaga pendidikan formal -- dalam hal ini madrasah -- dibahas Nakosteen cukup rinci. Fokus utamanya adalah Madrasah Nizhamiyyah di Baghdad, yang menurut dia selama beberapa abad menjadi pusat keilmuan dan pengetahuan. Sayang, Nakosteen tak membahas Universitas al-Azhar yang merupakan akar tradisi semua universitas di muka bumi ini. Karena itu, orang perlu melengkapi bacaannya dengan karya George Makdisi yang mengungkapkan kebangkitan kolej (colleges) di Barat dengan lembaga pendidikan tinggi Islam, termasuk Universitas al-Azhar.

Jika Islam pernah mencapai kemajuan mengagumkan dalam bidang intelektual, sains, dan teknologi, lalu kenapa tiba-tiba berhenti? Menurut Nakosteen, itu disebabkan kristalisasi skolatisisme Islam yang reaksioner dan fatalistik. Atas nama ortodoksi Islam, penguasa dan ulama skolastik membungkam ilmuwan muslim, serta menyingkirkan ilmu yang berkaitan dengan intelektualisme dan empirisme dari lembaga pendidikan Islam. Ketika modernisme Islam mulai muncul awal abad ini, upaya melepaskan Islam dari belenggu skolatisisme mulai dilancarkan. Tapi sayang, belenggu itu belum sepenuhnya lenyap. Kecurigaan terhadap intelektualisme, sains, dan teknologi masih menghinggapi banyak kalangan muslim.

Azyumardi Azra