Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jual Buku Jurnalisme Bencana, Bencana Jurnalisme

Judul: Jurnalisme Bencana, Bencana Jurnalisme
Penulis: Ahmad Arif
Penerbit: KPG, 2010
Tebal: 217 halaman
Kondisi: Stok lama (bagus)
Harga: Rp. 30.000 (blm ongkir)
Order: SMS/WA 085225918312


Kalau Anda mencari buku tentang liputan bencana yang ditulis secara jujur, terutama tentang bagaimana media dan para jurnalisnya melihat bencana dan memperlakukan korban bencana, karya Ahmad Arif ini layak menjadi pilihan.

Meliput dan memberitakan peristiwa bencana, terlebih lagi bencana besar dengan kehancuran masif dan ribuan mayat berserakan serta berbagai masalah ikutannya, bukan perkara mudah.  Akan tetapi, lebih sulit lagi menyampaikan berbagai fakta tersembunyi di seputar peristiwa bencana secara jujur, apalagi jika fakta-fakta itu menyangkut perilaku para pekerja jurnalis dan media tempat mereka bekerja.

Dalam buku ini, penulis, jurnalis Harian Kompas yang pernah ditugaskan meliput bencana tsunami Aceh dan bertugas di daerah tersebut selama sekitar dua tahun, telah berusaha menghadirkan fakta-fakta yang selama ini tak banyak diketahui publik. Fakta-fakta tersebut tak hanya yang berkaitan dengan kondisi bencana (berikut para korbannya), melainkan fakta-fakta mengenai perilaku para jurnalis di lokasi bencana dan bagaimana sesungguhnya media tempat mereka bekerja, termasuk suratkabar tempat penulis bekerja, menyikapi bencana tersebut.

Fakta-fakta mengenai perilaku jurnalis dan sikap media adalah dua hal yang tak banyak diketahui khalayak, khususnya khalayak pembaca maupun pemirsa televisi.  Perilaku jurnalis dan media itulah yang kemudian dikemas dalam ungkapan Bencana Jurnalisme. Penulis menunjukkan bahwa perilaku tersebut telah turut andil dalam menciptakan ├óbencana baru bagi para korban bencana, dalam hal ini korban bencana tsunami di Aceh.

Sungguh tepat catatan yang diberikan Parakitri dalam pengantarnya bahwa buku ini adalah buku yang menegaskan persoalan. Persoalan dalam jurnalisme. Pelaksanaan jurnalisme yang cemar, begitu kata Parakitri. Cemar, dalam arti bahwa bukan hanya pelaksana yang tidak memadai, tapi juga karena niat buruk (dalam menyikapi situasi bencana dan pascabencana).

Tak mudah menunjukkan ke publik tentang perilaku tersebut. Bagaimanapun juga, ini tak ubahnya membuka borok diri sendiri. Jelas tak semua suka keborokan dirinya diketahui khalayak, apalagi jika kemudian borok itu ternyata membuat orang lain terkena akibatnya.

Borok, cemar, dosa jurnalisme dan media. Itu kata-kata kunci yang dihadirkan penulis melalui buku ini. Keterlambatan merespon peristiwa sebesar bencana tsunami Aceh, pekerja media yang tak memiliki referensi atau bayangan tentang potensi bencana sebesar Aceh, televisi yang seperti tak menaruh perhatian (dan baru sore hari mulai agak gencar memberitakan setelah televisi luar negeri memberitakan), vested-interest media yang sejatinya adalah menjual berita bencana demi laba atau kepentingan korporasi, banyaknya wartawan yang lari jadi pegawai badan-badan donor demi gaji lalu melupakan persoalan yang seharusnya diliputnya, kolusi jurnalis/media dengan badan-badan kebencanaan yang menutup ruang bagi pemberitaan kebobrokan penanganan pascabencana, adalah sebagian dari borok dan dosa jurnalisme itu yang dipaparkan cukup gamblang.  Siapa yang terkena eksesnya? Tak lain para korban bencana.

Ditulis secara memikat dengan gaya penuturan jurnalisme naratif, buku ini pun tak terjebak menjadi sebuah pemaparan kisah peliputan yang ingin menonjolkan sisi keharuan untuk menggugah perasaan. Meski salah satu sisi dari topik utama buku adalah jurnalisme bencana, penulis pun tidak menghadirkannya sebagai sebuah buku teks akademis. Jurnalisme bencana oleh penulis dihadirkan melalui penceritaan berbagai catatan pengalaman liputan, baik menyangkut pengetahuan, sikap dan perilaku jurnalis maupun sikap dan perilaku media. Dalam epilog-nya, penulis merangkum jurnalisme bencana itu dalam sejumlah tips, yang itu pun berdasarkan pengalaman lapangan.