Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Buku Sejarah Ka'bah

Judul: Sejarah Ka'bah
Penulis: Ali Husni Al-Kharbuthli
Penerbit: Turos, 2013
Tebal: 364 halaman

Perjalanan Ka'bah yang tak lekang oleh ruang dan waktu selalu menarik ditelisik. Sejauh ini, ada tiga skenario sejarah asal-muasal Ka'bah. Pertama, kalangan sejarawan masa lalu mengatakan, Ka'bah dibangun para malaikat sebelum bumi diciptakan. Skenario kedua mengatakan, adalah Nabi Adam AS yang membangun Ka'bah pertama kali sampai masa anaknya, Syits.

Terakhir, Nabi Ibrahim AS bersama anaknya yang kemudian juga menjadi nabi, Ismail AS, membangun rumah suci umat Islam ini di daerah tandus tak berpenghuni. Seiring dengan kepak sejarah, daerah yang masuk wilayah Arab Saudi itu diberi nama Mekkah. Skenario yang terakhir itulah yang selanjutnya digunakan Ali Husni Al-Kharbuthli dalam bukunya ini. Ia mendasarkannya pada bukti sejarah yang menegaskan bahwa sebelum kedatangan Ibrahim AS, istrinya, Sitti Hajar, dan Ismail AS ke Mekkah, tidak ada sarana dan fasilitas yang mendukung keberlangsungan hidup manusia, konon ada bangunan seperti Ka'bah.

Sebenarnya sudah banyak buku yang membahas soal sejarah Ka'bah. Yang populer digunakan memang sejarah dengan skenario ketiga. Yang menjadi pembeda, buku ini tidak menampik riwayat-riwayat yang lain. Alasan Al-Kharbuthli, riwayat-riwayat itu, yang termaktub dalam buku-buku sejarah klasik, sudah menjadi bagian dari sejarah itu sendiri.

Ka'bah menjadi bagian terpenting berdirinya kota Mekkah. Setelah Ka'bah selesai dibangun, Ibrahim kemudian diperintahkan Allah SWT untuk menyerukan ibadah haji kepada umat manusia. Turut memiliki andil dalam membangun Mekkah adalah malaikat Jibril yang memancarkan mata air zam-zam di tengah padang tandus itu. Mata air menjadi infrastruktur utama dalam membangun sebuah peradaban dan menjadi faktor penting berkembangnya Jazirah Arab.

Dikisahkan, ada masa sumur zam-zam menghilang dan Mekkah dilanda kekeringan. Air diambil dari sumur-sumur di luar kota Mekkah. Tanpa air, Mekkah hanya menjadi padang pasir yang tandus, seperti pada masa Ismail AS, tidak ada yang bisa tinggal di sana. Untung saja, Abdul Muthalib, kakek Nabi Muhammad SAW, melalui mimpinya, mendapat petunjuk untuk menggali sumur zam-zam. Abdul Muthalib kemudian menuruti mimpinya itu dan menemukan kembali mata air itu.

Dari situlah Mekkah berkembang menjadi kota yang sangat penting secara agama, budaya, politik, bahkan ekonomi. Setelah Ka'bah berdiri, pasar-pasar pun bermunculan di sekitarnya. Dan itu pun berperan penting bagi kehidupan masyarakat Jazirah Arab sebelum Islam ada. Melalui jalur perdagangan, Mekkah berkembang menjadi kota besar yang tumbuh pesat.

Sebagai kajian ilmiah, buku guru besar sejarah Islam di Universitas 'Ainu Syams, Kairo, Mesir, ini mudah dicerna. Penulis bertutur secara gamblang, mengalir, sehingga mudah dipahami. Yang juga cukup penting, ia menjelaskan dengan terang posisi berdirinya dalam memandang sejarah Ka'bah, yang tidak hanya memiliki riwayat tunggal.

Bersumber dari Al-Quran, kitab-kitab induk hadis, buku-buku sejarah, agama, dan sastra menjadikan buku ini sebagai referensi ilmiah soal sejarah Ka'bah. Hasil riset tim penerbit berupa gambar dan teknis soal Ka'bah dan haji turut membantu pembaca yang ingin pergi naik haji. Setelah itu, "... kerinduan kepada Ka'bah tiba-tiba akan menyelimuti diri Anda."

Taufiqurrohman