Jual Buku Tuhan dan Hal-Hal Yang Tak Selesai

Judul: Tuhan dan Hal-Hal Yang Tak Selesai
Penulis: Goenawan Mohamad
Penerbit: KataKita, 2007
Tebal: 166 halaman
Kondisi: Stok lama (bagus)
Stok kosong

Dalam Tuhan & Hal-Hal yang Tak Selesai Goenawan Mohamad [GM] berusaha mengungkapkan pertanyaan dan kritik tentang Identitas akan konsep Tuhan dan manusia. Mengenai konsep Tuhan dan peribadatan GM berusaha untuk mengetengahkan tinjauan kritisnya akan fenomena yang terjadi belakangan ini.

Menurut GM, konsep akan Tuhan, spiritualisme dan beribadat dipersempit oleh justru ketika semua hal itu terdeskripsi, sehingga kesakralan yang ada di dalamnya menjadi hilang. Kehidupan spiritual yang bersifat privat menjadi terstruktur dan menjadi milik institusi yang menurut GM menjadikan celah sekularisme masuk di dalamnya.

Di awal chapter, GM ingin memperlihatkan konsep awal buku ini bahwa jalan menuju Tuhan sebenarnya dibangun, tidak selalu dari jalan yang lurus dan mudah, tetapi terkadang kita mendapat entitas keberadaan-Nya justru dari hal-hal yang jelek dan terbuang. Dengan analogi tiang masjid demak yang bukan terbuat dari kayu yang baik dan lurus tetapi dari tatal kayu terbuang yang disusun saling membangun. Setidaknya buku ini terdiri dari bagian-bagian yang terlihat dan tak terlihat yang merupakan tatal yang berurutan saling melengkapi dan membangun konsep pemikirannya. GM juga mengemukakan pentingnya akan keterbatasan kata dan bahasa.Dengan keterbatasan itulah, saya kira GM memutuskan untuk membuat konsep buku ini selalu tertutup "tirai" dengan penggunaan bahasa pengandaian yang menurutnya memperluas makna dari sekedar makna yang tercantum dalam kata.

Pengertian, akhirnya memang bersifat transenden, berada "diantara" sehingga terdapat ruang untuk berdialog di dalamnya untuk menemukan makna yang sebenarnya.

GM di awal chapter ingin memperlihatkan bagaimana entitas Tuhan tidak bisa ditentukan oleh kata semata, karena kata bisa mempersempit kenyataan Tuhan yang sebenarnya. Tentang waktu, seperti yang dijelaskan pada bagian 7 s.d 11, GM berpendapat bahwa saat ini konsep waktu menjadi sangat terukur karena dijadikan acuan untuk kepentingan materiil, seperti menentukan efektifitas dalam bekerja, maka spiritualisme sebenarnya tidak membutuhkan konsep waktu seperti ini. Karena waktu dalam spiritualisme seharunya memerdekakan, karena saat bertemu Tuhan dalam beribadat, waktu bukanlah entitas kosong seperti konsep waktu dalam terminasi modern. Sehingga seperti yang diungkap dalam bagian 11 "Kita tak tahu apa arti kata selesai".

Selain bahasa dan waktu, GM berusaha mengkritisi gaya spiritualisme yang diungkap gerakan modernisme abad 20. Menurut GM modernisme berusaha merangkul semangat imani dengan jalan yang lebih indah, padahal menurt GM keberadaan Tuhan tidak selalu bisa dijelaskan dan terkadang Dia datang dalam bentuk yang sangat menakutkan. Dengan gayanya GM mengungkapkan bahwa "Manusia bisa tersesat tapi sejarah mengungkap bahwa iman tak pernah jera justru ketika Tuhan tak jadi bagian bagian yang terang".

Pembaruan abad 20 telah menghadirkan Tuhan dalam bahasa-bahasa empirik hasil ilmu pengetahuan. Sehingga entitas keberadaannya yang diterangkan terlalu jelas justru mendangkalkan spiritualisme yang ada, padahal menurut GM tanda-tanda merupakan "tanda-tanda", bukan kebenaran itu sendiri. GM mencontohkan film "Pasion of Christ" yang menurutnya tidak lebih dari sekedar siksa yang gemas dan tubuh yang kesakitan, imajinasi ke-Tuhanan yang sakral akhirnya kandas oleh kebanalan imaji tersebut.

Kebenaran atau kenyataan akan Tuhan tidak selalu harus dideskripsi, karena ke "Ada"an-Nya dapat dirasakan meski dalam "gelap". Kegelapan merupakan sebuah dunia disamping terang, bukan sebuah kekurangan karena terang tak ada di sana.

Lebih lanjut GM mengungkapkan bahwa banyak agama dibangun seperti layaknya imperium bisnis. Adanya semangat korporasi dalam institusi agama, dan dengan sinis GM berpendapat bahwa akidah merancang manusia menjadi manusia yang siap menghadapi godaan, hukum dan fikih menjadi teknologi penyelamatan, dan saat ini terjadi, sekularisme masuk saling mempengaruhi.
Setengah buku ini kemudian berusaha untuk mengungkap pertanyaan-pertanyaan tentang identitas. Pentingnya penemuan diri sendiri ini diungkapkan GM dalam bagian 55 dengan mengambil analogi Gadamer, bahwa kebenaran pada dasarnya dapat dicapai oleh "Aku" yang menguasai makna keberadaannya. Dan ketika manusia merasakan ke "Ada"an-Nya maka dia "merengkuh makro dan mikro kosmos sekaligus"  ketika hal itu terjadi maka manusia kembali mempunyai kemampuan kodratinya menjadi khalifatullah di bumi. Dengan itu manusia naik ke langit. Tanpa sayap ia merangkum jagad raya dan dirinya sendiri, sawengkon jagad raya, angga wus kamengku. Maka akulah kepastian, penguasa dunia objek, akulah pembentuk yang lain, akulah dasar diriku.(hal. 83).
  
Dengan analogi ini GM lalu ingin membenturkannya dengan identitas manusia kini yang telah menjadi dangkal, karena identitas yang asali bisa dikorbankan, lalu ditukar-tukar untuk tujuan dan kepentingan tertentu. Menurut GM manusia modern telah menjadi objek kepentingan material, dan menjadi berwajah banyak karena telah menjadi bagian dari komoditi. Hal seperti ini yang menurut GM merupakan proses pengkerdilan jati diri manusia yang sejati (hal. 86). Berita tentang kematian subyek dan subyektifitas tentu saja telah dilebih-lebihkan.

Zaman ini memang menyaksikan bagaimana manusia menyusut. Ia telah menjadi bagian dari komoditi, dan ada yang mengatakan inilah zaman manusia akhir.  (bagian 54)

Bagaimana identitas diri ditemukan lalu diterangkan dalam tulisan-tulisan sesudahnya. Bahwa identitas akan muncul dari makna dalam komunikasi verbal dan non verbal yang bisa diperoleh saat kita berhubungan dengan yang lain. Jadi penemuan diri sendiri menurut GM lebih dari sekedar perenungan atau kontemplasi dengan diri sendiri seperti yang dia ungkap dalam bagian 56 dan 57. Tetapi kemudian bahwa makna juga tidak selalu lahir dari percakapan dan bahasa, karena terkadang kita tidak mendapatkan konsesus yang disepakati bersama, atas sebuah kebenaran dalam proses komunikasi yang kita lakukan. Seperti yang terungkap di bagian 58 bahwa Kita tidak bisa terlalu yakin bahasa akan menjamin percakapan kita, tapi kita tidak perlu putus asa. Di luar tata simbolik itu memang ada sesuatu yang tak terjangkau. Tapi toh kita masih bisa bersama, tertawa bersama.  

Dalam perjalanan menemukan identitas ini GM mencoba mengawinkan perspektif teori dari banyak filsafat modern dan posmodern seperti Martin Heidegger, Jaqcues Derrida, Theodor Adorno, Gadamer, Husserl dan mengetengahkan ruang lingkup komunikasi dari sudut pandang manusia sebagai komunikator dengan memberi tinjauan kritis dengan menempatkan entitas manusia dalam era posmodern. Yang menarik adalah pendekatan teori GM dengan mengawinkan konsep pemikiran barat dengan kebijakan timur seperti penemuan diri Werkudara dalam kisah Dewa Ruci, Marchel Duschamp dengan Cokot. GM juga piawai saat dia menggunakan pendekatan dengan menggunakan ikon-ikon seni yang juga diambil dari high, popular dan tradisional art seperti Henry Matisse,Babel dan Asmuni.

Berlangganan via Email