Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jual Buku Senja Yang Paling Tidak Menarik

Judul: Senja Yang Paling Tidak Menarik (kumpulan cerpen)
Penulis: Arswendo Atmowiloto
Penerbit: Indonesiatera, 2001
Tebal: 142 halaman
Kondisi: Stok lama (bagus)
Terjual Semarang


Cerpen-cerpen Arswendo dalam buku ini mungkin merupakan kumpulan karya-karya yang ditulisnya pada tahap paling awal dari kariernya sebagai penulis. Dari sana, kita bisa melihat banyak proses dan pergulatan yang kadang agak terasa lugu dan unik. Bahkan kelebihan  kumpulan cerpen ini adalah pada hasrat untuk mengungkap keluguan itu, yang bisa menjadi bahan berharga untuk melihat sosok Arswendo, terutama dalam proses kreatif kepengarangannya, secara lebih utuh? Arswendo Atmowiloto, lahir di Solo, 26 November 1948. Selepas kuliah di IKIP setempat tanpa selesai, ia menjadi penulis. Ada ratusan buku yang telah ditulis dan diterbitkan, di antaranya banyak yang terpilih sebagai buku utama ataupun memenangkan hadiah nasional. Tahun 1979, ia diundang ke Universitas Iowa, Amerika Serikat, dalam rangka program penulisan kreatif. Ia juga mendapat anugerah ASEAN Award pada tahun 1987.

Realitas yang saya tuliskan dalam cerpen (atau novel, atau bahkan skenario) adalah 'realitas' yang saya ciptakan, saya rekonstruksi lagi, berulang-ulang, dan mencipta sesuatu--seperti yang saya maui.

Kebebasan menciptakan realitas ini banyak menyelamatkan diri saya, mendapat honor, dihargai, dan leluasa: cerita tentang pacar, ibu, atau membelah laut sekalipun. Penampakan diri menjadi tipuan yang mengasyikkan, melarutkan, dan membuat betah di dalamnya.

Itulah yang terjadi 35 tahun lalu, sampai sekarang, dan bisa jadi sampai impoten dalam penulisan?hanya tinggal dalam angan-angan. Maka, sangat mungkin sekali jika sebenarnya tulisan saya sama saja. Tak lebih baik antara yang sekarang atau yang dulu--kecuali mungkin teknik penulisan, itu pun hanya (soal) meletakkan titik atau koma. Kalau saya mengagumi cerpen-cerpen ini, saya bisa mengagumi diri sendiri, karena disandingkan dengan usia ketika menulis. Waktu itu bahkan mesin tulis pun tak punya.

Berlangganan via Email