Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jual Buku Sejarah Seksualitas: Seks dan Kekuasaan

Judul: Sejarah Seksualitas: Seks dan Kekuasaan
Penulis: Michel Foucault
Penerbit: Gramedia, 2000
Tebal: 223 halaman
Kondisi: Bekas (Bagus)
Harga: Rp. 60.000 (blm ongkir)
Order: SMS/WA
085225918312

Membaca buku ini pas dengan momennya. Karena seperti kita ketahui bersama, beberapa minggu terakhir ini, kita bisa menyaksikan betapa kekuasaan mampu menggapai, menembus dan mengontrol individu sampai pada kenikmatan-kenikmatan yang paling intim. Tanpa perlu saya sebutkan siapa aktor individu tersebut, kita dipahamkan dari peristiwa ini, bahwa di seputar hubungan intim itu telah dibangun perlengkapan serta mesin untuk memproduksi kebenaran. Artinya seks ternyata bukan hanya masalah sensasi dengan kenikmatan, atau hukum dan larangan. Tetapi di dalam seks dipertaruhkan masalah benar dan salah.

Dalam buku ini, Foucault ingin menegaskan, seks mau dirumuskan menjadi suatu kebenaran yang perlu diatur. Maka perlu mencurigai bahwa di dalam seks ada rahasia penting karena masyarakat butuh produksi kebenaran. Maka seks harus masuk dalam rejim tatanan pengetahuan. Meskipun tidak mampu mengimajinasikan kenikmatan baru, setidaknya menemukan kenikmatan akan kebenaran kenikmatan. Dari wacana tentang seks bisa ditarik kesimpulan adanya kenikmatan untuk mengetahui, menemukan, tertarik melihat, mengatakan, mempercayakan rahasia dan menjebak kelicikan.

Ada konspirasi kekuasaan-pengetahuan sehingga kekuasaan menjangkau sampai pada perilaku yang paling individual dan intim. Di media tulis, seks selalu ada dan menjadi kolom yang tak terlewatkan. Kolom itu biasa diasuh oleh seorang pakar: dokter, psikolog, psikiater. Kehadiran pakar ini adalah ilustrasi betapa kekuasaan-pengetahuan merambah kehidupan paling intim subyek. Lalu kelihatan bahwa kekuasaan terhadap seks hanya bisa membuat larangan atau hanya bisa mengatakan tidak. Kekuasaan bisa mengambil bentuk instansi yang mengatur. Dalam hal ini, kekuasaan memberi peraturan, sah atau tidak, boleh atau dilarang. Dengan demikian, seks dipahami hanya dalam kerangka hukum. Kekuasaan membentuk lingkaran larangan sangat beragam, dari jangan berbicara; jangan mendekat; jangan menyentuh; sampai pada jangan melakukan. Tujuan lingkaran larangan ini ialah agar seks meninggalkan dirinya.

Foucault memberikan contoh, salah satu dimensi larangan adalah sensor. Logika sensor yang terpateri dalam larangan bisa mempunyai tiga bentuk, yaitu menyatakan tidak boleh; menghalangi jangan sampai dikatakan; menyangkal bahwa ada. Ketiga hal ini merupakan bentuk mekanisme sensor. Cara beroperasi sama di semua tingkat. Kekuasaan atas seks beroperasi dengan cara yang sama pada setiap tingkat, yaitu mereproduksi hukum, larangan dan sensor. Cara beroperasi ini berjalan secara sama baik di tingkat negara, keluarga, agama, penguasa, ayah, pengadilan atau semua instansi dominasi sosial. Jadi kekuasaan adalah banyaknya hubungan kekuatan yang melekat pada bidang di mana ia beroperasi; permainan melalui perjuangan dan bentrokan tanpa henti untuk mengubah, memperkuat dan membalikkan. Kekuasaan itu menyebar, ada di mana-mana.

Prosedur kebenaran, menurut Foucault, ialah cara bagaimana suatu praktik sosial mendapat legitimasi. Hanya prosedur itu sangat ditentukan oleh struktur pemaknaan suatu jaman dan konteks tertentu, yang pada gilirannya, menentukan cara berpikir, bertindak dan menilai. Dua prosedur untuk memproduksi kebenaran seks: pertama, ars erotica (Cina, Jepang, India, Roma, Arab-Islam); dan kedua, scientia sexualis (Barat). Dalam ars erotica, kebenaran digali dari kenikmatan itu sendiri sebagai praktik dan dikumpulkan sebagai pengalaman. Perspektif ini tidak dipahami dalam kerangka hukum (boleh-dilarang) atau criteria kegunaan. Seks dipahami dalam kenikmatan, intensitas, kualitas khas, keberlangsungan, pantulan dalam tubuh dan jiwa. Sedangkan, dalam scientia sexualis, yang dikembangkan adalah prosedur yang mengatur bentuk kekuasaan-pengetahuan. Kekuasaan pengetahuan ini mengurus masalah pengakuan. Ritus-ritus dibuat untuk memproduksi kebenaran (teknik pengakuan, prosedur penuduhan, interogasi, penghilangan bukti kesalahan, sumpah, duel, pengadilan Tuhan). Pengakuan dihargai sebagai sarana menghasilkan kebenaran.

So, Ariel, Luna, Tari, karena tubuh kalian, bangsa ini bergerak mundur lagi beberapa langkah. Hanya karena tubuh kalian. Sementara itu, ada ribuan tubuh di Sidoarjo yang terampas haknya karena luapan lumpur dari Lapindo yang sampai sekarang tidak tahu nasib akan membawa mereka kemana. Ribuan tubuh itu jauh dari riuh pemberitaan di media. Tapi hanya karena tubuh kalian, media mendulang untung yang luar biasa.

Saya sama sekali tidak menyalahkan tubuh kalian. Toh kalian melakukannya tanpa keadaan terpaksa. Abaikan kaum agama yang memang kerjaannya cuma berteriak tentang moralitas, tetapi moralitasnya sendiri dipertanyakan. Karena tubuh kalian, saya jadi teringat Al Masih ketika berhadapan dengan orang-orang yang ingin merajam Maria Magdalena. Al Masih dengan tegar mengucapkan, “Siapa yang merasa dirinya tidak pernah berdosa, silakan jadi orang yang pertama merajam Maria Magdalena!”. Nah, orang-orang yang sekarang mengecam dan menghujatmu, mungkin memang tidak pernah mempunyai dosa sama sekali. Sehingga lupa, dan bertindak bagai Tuhan. –Ah, siapa sebenarnya juga Tuhan?-

Tubuh kalian menjadi kajian politik karena kegiatan intim yang kalian lakukan dengan gembira. Hidup menjadi bagian arena kontrol pengetahuan dan campur tangan kekuasaan. Kekuasaan tidak lagi hanya berurusan dengan subyek hukum, tetapi fokusnya pada makhluk hidup. Jadi tanggung jawab atas kehidupan memberi akses kekuasaan masuk sampai pada tubuh. Tubuh adalah politik karena seks.

Berlangganan via Email