Jual Buku Betapa Besar pun Sebuah Sangkar

Judul: Betapa Besar pun Sebuah Sangkar: Hidup, Suratan dan Karya Kartini.
Penulis: Elisabeth Keesing
Penerbit: Djambatan, 1999
Tebal: 226 halaman
Kondisi: Bekas (cukup)
Stok Kosong


Siapakah Kartini? Elizabeth Keesing merasa terpanggil untuk menulis "tentang diri dan pekerjaan" Kartini dengan mencoba "mengungkapkan pandangan Kartini sendiri tentang dunianya."

Keistimewaan Keesing adalah kemampuannya dalam memadukan ulasan dan observasi lintas budaya, bukan hanya tentang Kartini, tapi juga tentang orang-orang di sekitarnya serta Jawa dan Belanda, dengan narasi yang menghidupkan para tokoh tersebut. Keesing membiarkan Kartini berbicara melalui kata-katanya sendiri, tetapi dengan cerdik ia menggarisbawahi kontras keadalaman batin serta luasnya wawasan hidup Kartini dengan "lingkungan sempit yang mengagunkan segi lahiriah, yang hidup dari gunjingan, dengan gunjingan, dan demi gunjingan." Dengan cara seperti ini pula Keesing menampilkan sosok antagonis dalam buku ini, seperti Pangeran Hadiningrat, paman Kartini, seorang tokoh pembela rakyat yang disegani tetapi sangat menindas keponakannya sendiri karena gengsi, harga diri, dan nilai-nilai tradisional yang patriarkis.

Empati penulis buku ini membuat pembaca dapat ikut merasakan gejolak batin Kartini sebagai seorang perempuan "yang ingin bebas, tidak ditindas oleh kaum lelaki" tetapi harus mengalami kebimbangan dan kekecewaan karena yang menindasnya adalah orang-orang yang paling dicintainya, termasuk bapaknya sendiri. Masalahnya, menurut Keesing, sang anak yang cerdas dan tajam penglihatannya itu memahami "kedukaan dan frustasi" ayahnya, yang terjepit di antara kesadaran intelektual dan posisi sebagai pejabat pangreh praja yang terhormat. Sebaliknya, sang ayah tidak memahami kesedihan dan rasa frustasi putrinya. Bahkan, semua yang bersimpati padanya, pada titik tertentu, entah atas nama nilai tata nilai, agama, budaya, kehormatan keluarga, atau kepentingan negara, mengatakan "tidak" atau "jangan" pada keinginan meluap-luap gadis berusia 16 tahun ini untuk mengembangkan dirinya.

Buku ini mencatat pemberontakan-pemberontakan kecil Kartini terhadap kuasa patriarki yang menekan, misalnya, keberhasilan Kartini menghilangkan pengharusan bahasa kromo adik-adik kepada kakaknya.

Berbeda dengan biografi-biografi terdahulu, Keesing memberikan porsi yang cukup besar terhadap peran kedua ibu Kartini, yakni Raden Ayu Moeryam, ibu tirinya, dan Ibunda Ngasirah, ibu kandungnya, termasuk ketegangan di antara kedua istri bupati Jepara itu. Dengan menafsirkan kata 'mama' sebagai sebutan untuk Raden Ayu dan 'Ibu' untuk Ngasirah. Keesing menunjukkan keterlibatan kedua perempuan itu sepanjang hidup Kartini.

Biografi ini merupakan bacaan yang tidak hanya menyentuh, tapi juga informatif. Antusiasme di luar negeri berkontras tajam dengan penerimaan di dalam negeri.

Bagaimana penerimaan atau reaksi terhadap Kartini pada zaman sekarang? "Untuk selanjutnya," kata Keesing, "bagi kebanyakan orang, Kartini hanyalah sebuah nama, sebuah pengertian yang apat diperlakukan sekehendak hati." Keesing menyebut toko, rumah makan, dan kap salon yang memakai nama Kartini. Keesing bahkan menilai biografi-biografi Kartini lainya dengan tak kalah kritisnya. Yang diciptakan hanya "mitos versi mereka sendiri berdasarkan kewajaran zaman mereka sendiri."

"Semakin Kartini menjadi lambang, semakin sirna pula kenangan tentang hidupnya, pemikirannya yang sesungguhnya, dan hakikat dirinya. karena terselimut oleh gagasan-gagasan orang lain." Di sini, Keesing benar bahwa lambang yang kosong cenderung mendangkalkan pemahaman.

Berlangganan via Email