Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jual Buku Pendidikan Kaum Tertindas

Judul: Pendidikan Kaum Tertindas
Penulis: Paulo Freire
Penerbit: LP3ES, 2008
Tebal: 258 halaman
Kondisi: Stok lama (bagus)
Harga Rp 60.000 (blm ongkir)
SMS/WA: 085225918312


Paulo Freire pernah dibui karena program melek hurufnya. Pendidikan harus menciptakan watak demokratis.

Brasil sebetulnya tertinggal dalam segala hal. Evolusi dari kolonialisme Eropa membuat bangsa ini dikuasai sekelompok kecil orang yang sangat bergantung pada modal asing. Untunglah, mereka masih punya pesepak bola Pele dan Ronaldo, serta pembalap Aryton Senna. Lebih dari itu, Brasil memiliki Paulo Freire, pemikir yang mengguncangkan lewat dunia pendidikan.

Mulanya, ia hanya berkutat di negerinya yang terpuruk itu. Lantas ia menjadi "pahlawan" bagi negara-negara Amerika Latin, misalnya Cile. Dari sana ia beranjak ke Universitas Harvard, Amerika Serikat, lalu memimpin Institut Action Culturelle (IDAC) yang bermarkas di Jenewa. Toh, aktivitas Freire dianggap "subversif" dan merongrong kewibawaan pemerintahnya.

Maka, tak mengherankan bila ia sempat dibui karena program melek hurufnya bagi rakyat pedesaan. Itulah yang kemudian disebut "pendidikan kaum tertindas", sebagaimana judul karyanya yang paling tersohor itu. Program pendidikannya, sebetulnya, tak sebatas mengatasi buta aksara. Melainkan juga upaya untuk memerdekakan manusia dari ketidaktahuan. Bagi Freire, pedagogi harus bersifat usaha sosial dan politik yang menciptakan watak demokratis.

KH Abdurrahman Wahid, dalam kata pengantar edisi Indonesia buku Freire, Pendidikan Sebagai Praktek Pembebasan (1984), menyatakan pemikiran alternatif dalam pendidikan didasari atas kenyataan pincangnya struktur masyarakat di negara-negara berkembang. Struktur masyarakat berfungsi opresif bagi rakyat kecil yang menjadi korban eksploitasi ekonomi untuk kepentingan pemilik modal.

Buku yang berjudul asli Paulo Freire: His Life, Works and Thought ini menjelaskan optimisme Freire yang tegar. Ia mengurai tali-temali yang membelenggu rakyat Brasil. Ia melihat kaum pendidik Brasil menulis dan berpikir dengan sudut pandang Eropa dan Amerika Serikat. Maka, pendidikan alternatif yang ditawarkan Freire ialah mentransformasikan sejarah menjadi subjek-subjek melalui suatu refleksi kritis. Ia berkesimpulan, pendidikan harus mengarah pada pembebasan politis.

Mengapa metode Freire berhasil? Jawabannya terletak pada proses penyadaran untuk memberikan gambaran pendidikan yang otentik. Freire berhasil menarik kaum petani yang bekerja di ladang, dari pagi hingga petang, untuk mengikuti pelajarannya setiap malam selama enam sampai delapan minggu (halaman 11). Menurut Denis Collins, penulis buku ini, pemikiran Freire bersifat eklektis.

Itulah sintesis yang mengalir dari pengalaman hidup dan penyaringan intelektual. Ia banyak melahap bacaan "kelompok kiri" seperti Marx, Mao, Fanon, Lukacs, Althusser, dan Marcuse. Tapi ia juga menggeluti pemikiran Husserl, Heidegger, Sartre, Camus, dan Jaspers. Namun, filsafat pendidikannya tak mengarah pada satu aliran tertentu.

Maka, tak mengherankan, "Karena sinkretismenya... ia disebut sebagai seorang idealis, komunis, 'seorang teolog yang menyamar', fenomenolog, dan seorang eksistensialis," tulis Collins (halaman 49). Di sini kita bisa sebut lima jaringan filosofis yang membentuk pemikiran Freire. Yaitu: personalisme, eksistensialisme, fenomenologi, marxisme, dan kristianitas.