Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jual Buku Api Islam Nurcholish Madjid: Jalan Hidup Seorang Visioner

Judul: Api Islam Nurcholish Madjid: Jalan Hidup Seorang Visioner
Penulis: Ahmad Gaus AF
Penerbit: Kompas,  2010
Tebal: 424 Halaman
Harga: Rp. 70.000 (blm ongkir)
SMS/WA: 085225918312
PIN BBM: 5244DA2C



Kehadiran seorang pembaru pada awalnya selalu mendapat kecaman, kritik dan resistensi. Sejalan dengan bergulirnya waktu, ide-ide seorang pembaru pelan-pelan mulai dikaji, diapresiasi, dan diikuti. Ini tidak berbeda dengan Nurcholish Madjid (Cak Nur) yang sejak awal tahun 1970-an gigih memperjuangkan pembaruan pemikiran Islam.

Buku Api Islam Nurcholish Madjid; Jalan Hidup Seorang Visioner ini merekam jejak langkah perjalanan dan perjuangan Cak Nur dalam pencerdasan bangsa Indonesia. Ditulis oleh orang yang sangat dekat dengan Cak Nur, buku ini memberi gambaran relatif utuh tentang Cak Nur; suka-duka, tantangan-tantangan, bahkan fitnah yang dihadapinya.

Dalam peta pembaruan Islam Indonesia, Cak Nur sangat gigih memperjuangkan pendekatan Islam yang lebih holistik. Lebih dari itu, ia berusaha menampilkan wajah Islam yang lebih ramah dalam pendekatan kultural. Pada mulanya, gagasannya seperti "Islam yes partai Islam no", sekularisasi, pluralisme, universalitas kemanusiaan, dan pembaruan pemikiran Islam mendapat resistensi dari sebagian kalangan.

Namun begitu, pada tahun-tahun menguatnya kekuasaan politik Orde Baru Soeharto era 1970-1980-an, banyak tokoh-tokoh Islam yang muncul ke permukaan dan bergerak di berbagai lapangan tanpa membawa atribut-atribut Islam. Mereka adalah para terpelajar yang berbasis pada organisasi mahasiswa seperti HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) yang melanjutkan pendidikan di berbagai perguruan tinggi di dalam dan luar negeri. Setelah menamatkan pendidikan dan pulang ke Tanah Air, mereka berkiprah dalam berbagai lapangan menyumbangkan tenaga, pikiran, dan ilmu yang mereka peroleh.

Meskipun terlibat dalam persoalan-persoalan teologis-filosofis kebangsaan yang berat, ternyata Cak Nur juga tidak melupakan hal-hal kecil yang mungkin dianggap bukan levelnya. Barangkali tidak banyak yang tahu bagaimana kantornya Paramadina dan pelataran parkir di sekitarnya, yang ketika itu terletak di Jalan Metro Pondok Indah Plaza, Jakarta Selatan, setiap Jumat "disulap" menjadi masjid untuk pelaksanaan salat Jumat. Dalam kesempatan ini, Cak Nur selalu tampil sebagai khatib, kalau sedang tidak ke luar kota atau ke luar negeri.

Sejak 1998 tradisi ini berjalan. Setelah selesai pelaksanaan salat Jumat, biasanya para jamaah yang "tidak puas" dengan materi kotbah "menodong" Cak Nur dengan pertanyaan-pertanyaan. Akhirnya dibukalah diskusi lesehan sekitar masalah tema kotbah dan masalah-masalah lain yang berkaitan dengan situasi yang berkembang ketika itu. Kalau pelaksanaan salat Jumatnya hanya sekitar setengah jam, maka diskusi lesehan ba'da Jumat bisa satu jam setengah.

Ini memperlihatkan bahwa Cak Nur bukanlah sosok seorang pemikir "angker" yang njelimet dan sulit diajak berkomunikasi. Cak Nur ternyata mampu mengomunikasikan gagasan-gagasan briliannya yang "berat" dalam bahasa yang sederhana, memikat dan mudah dipahami. Di sini terlihat sikap bersahaja Cak Nur yang selalu menghormati orang lain, meskipun kapasitasnya sebagai pemikir besar tidak diragukan. Pandangannya tentang universalitas kemanusiaan tidak hanya berkisar pada tataran gagasan, tetapi juga dalam aplikasi keseharian sikapnya.

Dalam buku ini, Ahmad Gaus juga merekam gagasan-gagasan Cak Nur lainnya, seperti negara Islam, Pancasila sebagai ideologi terbuka, dan kiprah Cak Nur seperti ketika di HMI, Paramadina, proses pelengseran Soeharto hingga pencalonannya sebagai presiden. Semua ini dikemas dengan bahasa yang ringan dan mengalir. Buku ini berusaha memberikan gambaran yang utuh tentang Cak Nur.

Salah paham terhadap Cak Nur yang selama ini mungkin terdapat pada seseorang, agaknya dapat sedikit berkurang. Buku ini tidak bermaksud mendorong pembaca untuk menyetujui gagasan-gagasan Cak Nur, namun setidaknya buku ini berupaya mengajak untuk memahami jejak langkah dan pemikirannya yang ingin mengambil api Islam, bukan abunya.

Muhammad Iqbal Doktor UIN Jakarta, dosen pascasarjana IAIN SU Medan